Rabu, 18 September 2024

My Blue Month

Hari ini saya masih melow dan masih shocked dengan apa yang baru dialami putri saya. Saya masih sering berkaca-kaca kalau teringat bahwa ia bukan anak kecil lagi.

Tapi ketika saya sharing dengan ibu2 lain yang lebih senior, alias yang mempunyai putri sudah besar, ternyata mereka pun mengalami kekagetan yang sama. So, it's normal actually. 

Saya mungkin seharusnya bersyukur, masih bisa membimbing putri saya di hari pentingnya. 

Saya teringat salah seorang sahabat saya. Ia meninggal dunia sekitar 3 tahun lalu. Ketika ia meninggal putrinya baru menginjak kelas 4 SD dan sudah haid. 

Bisa dibayangkan betapa kehilangannya putri sahabat saya itu. 

Ketika ia membutuhkan bimbingan sang ibu dalam menghadapi usia remaja, ia harus menghadapinya sendiri. 

Meskipun ayahnya ada, dan mengurusnya dengan baik, tentu berbeda ketika diurus oleh seorang ibu.

Masya Allah, saya pun mungkin harus banyak bersyukur masih mempunyai mamah di usia dewasa saya kini.

Mamah yang selalu mengingatkan dan membimbing saya.

Saya hanya berharap, saya bisa diberi usia yang panjang. Hingga saya bisa menemani putra putri saya di hari-hari penting berikutnya yaitu hari pernikahan mereka, ketika mereka mempunyai putra putri, ketika mereka menikahkan putra putri. 

Mungkin yang saya tidak akan siap adalah, jika mereka mendahului saya menghadap Allah. Atau ketika saya yang lebih dulu berpulang. 

Ah, keduanya pasti menyakitkan.

Tapi itu adalah hal yang pasti terjadi. Mau tidak mau saya harus bersiap.


Saya hanya bisa berdoa, Ya Allah wafatkanlah kami semua dalam keadaan Husnul Khatimah.


Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...