Minggu, 11 Desember 2022

A Risk Taker; Si Pemberani yang Sering Gagal

 


Pada suatu hari, komunitas guru yang saya ikuti, mengadakan penjaringan presenter untuk kegiatan International Conference. Bapak Founder memposting pendataan bagi siapa saja yang ingin menjadi presenter di grup WA.

Ya, komunitas guru ini memang sangat aktif sekali mengadakan kegiatan atau seminar, pelatihan di berbagai bidang yang bisa diikuti guru di seluruh Indonesia. Meskipun pelatihan dan seminar itu, sebagian besar dilaksanakan online, namun bagi saya yang tinggal di daerah, sangat sangat membantu dalam upgrading diri, terutama sebagai pendidik. 

Kembali lagi ke kegiatan International Conference yang akan diadakan di awal bulan depan. Beberapa anggota komunitas yang mayoritas dosen dan guru di sekolah-sekolah bonafid, banyak yang mengisi data. Artinya mereka bersedia menjadi presenter acara tersebut, yang tentu saja dibawakan dengan B. Inggris.

Wihh, begitu membaca deskripsi kegiatan, apa dan bagaimana, otak saya langsung menciut. Ngeriii. It’s not my field, begitu ucap hati saya.

Dan akhirnya saya hanya menjadi silent reader, dengan perasaan takjub, karena banyak teman-teman komunitas yang mengisi dan sepertinya sangat siap menjadi presenter kegiatan tersebut.

Hingga kemudian Si Bapak founder menjapri saya tentang kegiatan tersebut. Okeh, saya semakin ngeri mendapatkan WA tersebut. Itu berarti saya “diperintahkan” untuk menjadi presenter di acara tersebut. Chat di atas yang beliau sampaikan pada saat itu.

Saya ungkapkan ketakutan saya, dan beliau terus menyemangati saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mungkin bukan hanya saya yang disemangati, but anyway saya mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada Bapak Founder.

Oke, ya pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menjadi presenter.

Dan tahukah anda apa yang menjadi trigger hingga saya berani?

Yup, betul. Kata Risk Taker “memukul” mental saya. Bahkan hingga hari ini sangat terngiang-ngiang.

Risk Taker kurang lebih artinya Pengambil Resiko. Atau dalam kata lain saya mengartikannya sebagai “Keluar dari Zona Nyaman”.

Saya pun sedikit merenung atau instrospeksi diri. Apakah saya memang seseorang yang selalu bermain di Zona Nyaman? Apakah saya seseorang yang Kuuleun?  Apakah saya seseorang yang seperti katak dalam tempurung?

Entahlah, tiba-tiba saja perjalanan saya hingga di titik ini (entah titik sukses atau gagal) berkelebatan. Apakah ini titik yang penuh perjuangan atau hanya usaha ecek-ecek?

Saya meraba hati saya. Ada satu titik dimana saya ingin rasanya menangis tergugu. Karena sejujurnya untuk menjadi Jazzy di tahun ini, banyak sekali roller coaster mental yang saya alami.

Saya tinggal di sebuah desa di kota kecil. Saya mengajar di sebuah sekolah atau madrasah biasa, tidak wah dan tidak mewah.

Saya berasal dari keluarga sederhana baik secara materi, keadaan atau bahkan impian. Orang tua saya mengajarkan anak-anaknya, tidak muluk muluk. Cukup hidup sesuai ajaran agama dan harus memanamkan kasih sayang kepada sesama.

Namun, tentu saja terkadang Allah menciptakan skenario-skenario yang diluar harapan.  Bukan karena sebab akibat perbuatan kita, namun skenario skenario pahit yang harus dijalani karena itu bagian dari takdir yang diterima sebagai seorang anak.

Skenario pahit yang pernah saya alami menjadikan saya seseorang yang kemudian tidak kenal takut, tantangan apapun saya jalani asal sesuai dengan passion saya. Setidaknya di level keluarga sederhana saya, atau di level sekolah saya.

Bukan berarti saya jumawa bahwa saya lebih hebat dari meraka, namun justru disinilah titik kritisnya. Karena saya sering tergoda mengikuti kegiatan ini itu, saya lebih sering terjatuh atau gagal dibanding berhasil.

Hingga puncaknya, beberapa “pencapaian” saya berakibat pada retaknya persahabatan dan persaudaraan saya dengan beberapa orang. Entah apa sebabnya saya tidak mengerti. Apakah benar-benar hal ini kesalahan saya yang terlalu banyak mimpi? Atau mereka yang tidak suka dengan pencapaian saya?

Mungkin bagi beberapa orang saya agak lebay atau baper. Tapi bagi saya, saat itu adalah saat terberat. Karena mereka yang tidak suka dengan seorang Jazzy yang super semangat ini adalah orang-orang terdekat yang tidak mungkin saya jauhi.

Efek dari kejadian tersebut, saya kemudian menjadi sulit mempercayai orang. Saya bertekad hanya mempercayai suami dan ibu saya. Bahkan sahabat yang sudah belasan, puluhan tahun pun sudah tidak saya percayai lagi. Saya hanya akan berteman sewajarnya saja.

Di satu sisi saya juga berfikir, mungkin saya harus “melambatkan jalan”. Saya tidak akan banyak mengejar impian. Saya akan menjadi ibu, istri dan guru biasa biasa saja. Hal ini dikarenakan saya tidak mau dijauhi oleh orang yang sedarah dengan saya, gara-gara saya terlalu bersemangat.

Yaa, beberapa bulan ini saya berada di posisi I won’t do anything dealing with my dream. I’ll be a good employee, yang hanya akan bergerak jika disuruh atasan.

Apakah mental saya sudah baik-baik saja dalam mode itu?

No, mental saya masih hancur.

Mungkin akan ada yang berpendapat. Udah deh ga usah lebay. Udah tua juga. Harusnya sudah dewasa. Teu barbarian.

Oh, Allah, saya ingin menjadi seseorang yang seperti itu. Dewasa, matang, bersahaja, berwibawa, mengayomi orang lain.

Tapi saya harus menerima apa adanya diri saya saat ini bukan? Mudah-mudahan saja rapuhnya mental saya saat ini menjadikan saya seseorang yang seperti itu, yang saya sebutkan sebelumnya.

Namun, Kembali lagi kepada kata Risk Taker, dua kata itu ternyata menyadarkan saya. Noway. Just be you. Hanya karena banyak orang yang tidak mendukung malah menjatuhkan, bukan berarti kamu harus mengikuti keinginan mereka.

Kamu harus mengikuti keinginannmu sendiri.

What’s your dream? Chase it. What’s your obsession? Reach it. What’s your ideal? Grab it.

 

Allah… aku bersyukur dikelilingi beraneka ragam orang. Yang mensupport dan yang merendahkan. Tentu itu adalah cara-Mu supaya aku menjadi sebaik-baiknya hamba.

Okay, let’s be a risk taker.

 

 

 

 

 

 


My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...