Tampilkan postingan dengan label Spiritual Day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual Day. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2022

Ibu Jahat

Ibu itu jahat. Banyak sekali keburukan yang ia lakukan kepada anak-anaknya. Banyak sekali bukti-bukti bahwa seorang ibu banyak "menyakiti" anak-anaknya, yang malah oleh orang-orang dewasa dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Atau kadang seorang ibu mempunyai sifat-sifat yang tidak "terpuji" padahal ia selalu menasehati anak-anaknya supaya menjadi orang yang berakhlak mulia.

Tidak percaya? Nah, mari kita lihat daftar keburukan-keburukan seorang ibu.

1. Seorang ibu adalah pembohong. 

Kalau misalnya kita bertanya kepada setiap orang, terutama kepada orang-orang yang berilmu agama, berbohong itu sifat baik atau sifat jelek? Pasti semua orang akan menjawab, bahwa berbohong adalah sifat yang sangat tidak baik. Bahkan seorang pembohong tidak akan pernah dapat dipercaya lagi, dan ia tidak akan mempunyai banyak teman. Begitu bukan, ketika saat kecil kita didongengi ibu tentang kisah Si Gembala Tukang Bohong.

Tapi entah kenapa, seorang ibu, sangat sering berbohong kepada anaknya. 


"Bu, punya uang, enggak? Aku harus beli buku kuliah. Harganya 120.000. Kata Pak Dosen, kalau nilai mata kuliahnya ingin bagus, harus beli bukunya."  Alena berbicara kepada ibu dengan hati-hati.

Ibu berpikir sejenak. Ia teringat di dompetnya hanya ada si merah selembar yang tertinggal. Tanggal satu masih lima hari lagi. Gas melon pun harus segera diganti. 

"Kalau misalnya minggu depan belinya gimana?" Ujar ibu dengan lembut.

"Hmmm, paling lambat besok, Bu. .... Tapi kalau ibu lagi enggak punya uang, aku pinjam aja sama teman." 

"Ooh, ibu ada uang, kok. Kebetulan ada simpenan. Besok ibu kasih ya, kalau kamu mau pergi."

Ibu segera mengambil HP android jadulnya dan mengetik WA kepada seseorang.

Ceu, tiasa kasbon 150? peryogi kanggo budak kuliah.

Tak lama balasan datang.

Aya. Ka rmh we besok pagi. Srg nu sasih kamari, jntn 500 nya

Ia pun kembali membalas dengan hati perih.

Muhun, ceu. nuhun.


2. Seorang ibu adalah penghancur impian anak-anaknya

Katanya supporting system seseorang yang utama adalah orang tuanya terutama ibunya. Namun, entah mengapa, dalam beberapa hal, seorang ibu malah sering menghancurkan impian anak-anaknya.


"Galih, Galih, ... kamu mau sampai kapan main game, Lih? Galih...galih...buka pintunya." Ibu menggedor pintu kamar Galih sambil memanggil-manggil dengan nada tinggi. 

"Galih..."

Ceklek, tak lama kemudian pintu pun terbuka.

"Ibu, apa, sih, Bu? Ganggu banget. Aku tadi tuh bentar lagi mau push rank. Gara-gara ibu jadi gagal deh." Galih merengek sedikit marah kepada ibunya karena telah mengganggu hobinya.

"Push rank, push rank apa kamu. Dari tadi pagi sampai asar sekarang, teruuuss aja main game. Mau jadi apa kamu, hah?" Ibu memarahi Galih dengan berapi-api. Kesabarannya sudah habis, karena kegiatan Galih selama liburan ini hanya diam di kamar bermain game.

"Aku mau jadi atlet e-sport, Bu. Kan aku udah bilang berkali-kali. Aku mau jadi gamer. Jadi gamer enggak perlu pintar sekolah."

Semakin berkilatlah mata Sang Ibu, tanda amarahnya semakin menjadi-jadi.

"Apa? Jadi gamer? Enggak perlu sekolah katanya? Kamu tidak akan ibu ijinkan jadi atlit itu. HP kamu akan ibu ambil selama liburan." Dirampasnya HP di tangan Galih dan segera berlalu ke arah kamar, sembari menahan air matanya yang segera menitik satu per satu.

"Ibu, ibu jahat. Ibu enggak mendukung bakat Galih. Aku benci ibu." Sementara Galih semakin menjerit-jerit dan masuk ke dlam kamarnya sambil membanting pintu. 


3. Seorang Ibu adalah pengekang pergaulan anak-anaknya

Anak-anak generasi milenial sangat mudah bersosialisasi. Baik di sekolah, di lingkungan rumah, biasanya mereka memiliki circle-circle pertemanan. Melalui circle-circle ini, selain berteman, mereka pun kadang menemukan pujaan hati atau gebetan. Sehingga terkadang mereka jalan atau hang out bersama gebetannya tersebut. Ah, tapi terkadang, seorang ibu sangat overprotective ketika anaknya jalan bersama orang spesialnya

"Kamu mau kemana, Nes? Udah cantik gitu." Ibu yang baru beres memasak sore itu, tampak takjub melihat Nesya sudah berdandan rapi dan cantik. Ia sedang mematut-matut blousenya di depan kaca lemari.

"Ibu, kan aku udah bilang, aku mau jalan sama Fabian." Nesya mengerucutkan bibirnya, tanda merajuk.

Ibu pun tertegun sesaat. Oh, iya. Ia teringat. Tadi malam Nesya meminta ijin untuk nonton bersama Fabian teman dekatnya. Sebetulnya Ibu belum mengijinkan, hanya saja Nesya terus menerus merengek, sampai akhirnya Ibu hanya bilang, gimana besok aja.

Rupanya jawaban ibu, dianggap "memberi ijin" oleh Nesya. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk pergi dengan Fabian.

"Nes, kamu nanti sama siapa aja nonton?" Ibu masih berusaha mencegah Nesya untuk berangkat. Bagi Ibu, Nesya belum saatnya menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis, karena masih di bawah umur.

"Ya, berdua aja, Bu. Tapi kan nanti di bioskopnya banyakan."

"Kamu berangkat sore gini, nanti pulangnya jam berapa?" Ibu masih bertanya.

"Agak malam mungkin, Bu. Kan jadwal filmnya abis magrib." Nesya menjawab dengan nada takut.

"Terus kamu nanti dijemput dan diantar pake motor?" Ibu membayangkan Nesya dibonceng oleh Fabian, hatinya tidak rela anak gadisnya sedekat itu dengan anak laki-laki yang bukan saudaranya.

"Ahh, ibu, banyak tanya. Banyak peraturan. Pasti nanti bilang. Isya harus udah ada di rumah. Jangan gandengan tangan. Jangan boncengan. Ibuuu, aku tuh malu sama teman-teman. Aku dianggap enggak gaul banyak diatur sama ibu. Aku pengen kayak temen-temen bergaul dengan bebas." Nesya meledak amarahnya. Ia tidak tahan dengan banyaknya aturan ibu. Ia pun menangis tersedu-sedu.

Ibu hanya memandangnya dengan berkaca-kaca.


Ya, itulah sebagian kecil "keburukan" ibu. Bahkan bisa jadi lebih banyak lagi. Namun, entah kenapa disaat saya dewasa, saya merasa berterima kasih, ibu telah mendidik saya dengan cara "jahat" seperti itu.

Hatur nuhun, ya, Bu Yayat. Love you 💕





Kamis, 02 Juni 2022

The Chosen One

Assalamualaikum, Bu?

Apa kabar ibu sekeluarga?

Mungkin itu terdengar seperti pertanyaan basa basi, ya bu. Tentu saja tak ada kondisi baik baik saja, ketika seorang ibu tak mengetahui keadaan anaknya sekarang. Apakah masih ada kemungkinan untuk bertemu? Apakah sudah kembali ke Sang Pencipta? 

Entah apa yang akan saya lakukan jika ada di posisi ibu. Saya sempat merenung dan berbicara dengan suami saat pillow-talk tadi malam.

"Bi, kalau teteh jadi Bu Atalia sepertinya teteh akan seperti zombi. Tak ada lagi tujuan hidup, marah, ingin menjerit-jerit, serasa mimpi, bertanya-tanya, Kenapa aku Allah? Ya Allah ujian ini terlalu berat. Aku tidak sanggup." 

Bu, dihadapan ibu kini terbentang berbagai pilihan yang sungguh berat. Baik pilihan untuk merasa atau bersikap. Secara naluri ingin sekali menunggu disana, di sisi sungai Aare sepanjang waktu, atau mungkin ibu ingin menyelam ke dasarnya mencari keberadaan Ananda Eril. Tidak ingin melakukan hal lain. Namun, disisi lain tentu ada rasa untuk mengikhlaskan, pasrah kepada Allah. Apapun skenario Allah akan menerimanya dengan lapang dada. 

Malaikat dan setan tentulah terus berdebat. Setan berkata, kamu harus bersedih, tuntutlah Allah kenapa memberi balasan seperti ini atas ibadah-ibadahmu atas kebaikan-kebaikanmu kepada masyarakat.

Malaikat berkata ini adalah cara Allah mengangkat derajatmu. Ini adalah bukti bahwa kau makhluk "kesayangan" Allah. Ini adalah bukti bahwa Allah akan memberimu keindahan kelak.

Sebelas tahun yang lalu, ketika saya kehilangan putri saya yang masih bayi, saya pun mempertanyakan itu. Allah kenapa saya yang harus dipilih untuk mempunyai seorang putri kemudian harus kau ambil kembali diusia yang sangat muda?

Ketika saya mencurahkan perasaan itu kepada seorang teman, ia berkata, coba buka Qs. Al-Baqarah: 156.

Ah, ya, saya tahu. Itu adalah doa ketika kita tertimpa musibah. 


اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."

Ya, musibah adalah warning kepada kita. Bahwa kita hanyalah makhluk yang tanpa daya. Kelak kita semua akan kembali kepadaNya, dengan apapun caranya.

Entah kita yang lebih dulu, atau anak-anak kita, atau orang tua kita, di usia berapa, tak ada yang tahu. 

Sehingga tak jemu-jemu kita selalu berdoa, Ya Allah berkahilah kami dengan Husnul Khatimah, dimanapun kami akan dijemput, bawalah dalam keadaan hati yang bersih dan penuh kebaikan. 

Begitupun dengan ananda Eril, jika saja ia telah bertemu dengan sang pencipta-Nya, mudah-mudaha dalam keadaan syahid. Sebagaimana hadits Rasul 

Dari Abu Hurairah, beliau berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘Wahai Rasulullah, orang yang meninggal di jalan Allah itulah orang yang mati syahid.’ Beliau bersabda: ‘Kalau begitu, sedikit sekali jumlah umatku yang mati syahid.’”

Para sahabat berkata, ‘Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: ‘Barangsiapa terbunuh di jalan Allah maka dialah syahid, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena penyakit kolera juga syahid, siapa yang mati karena sakit perut juga syahid.’ Ibnu Miqsam berkata, ‘Saya bersaksi atas ayahmu mengenai hadits ini, bahwa nabi juga berkata, ‘Orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid.” (HR Muslim).

Memang mudah memberi nasihat, saran, ucapan penguatan pada orang lain. Padahal kita tidak pernah bisa merasakannya. Kepahitan itu, lubang gelap itu, pedih itu.... entah kata-kata apa lagi yang bisa menggambarkan dengan tepat, atau rasanya tidak ada. 

Kepekatan itu mungkin hanya bisa dirasakan dengan air mata cinta.


Kamis, 26 Mei 2022

Tulisan Bingung (1)

Dear my readers, maafkan ya, kemarin tidak ada post, karena sengaja, kemarin kan tanggal merah, that was the family time. Jadi kalau tanggal merah saya usahakan tidak ada post heheheh 😂 

Eits, jangan salah. Family time without gadget itu penting lho. Tapi tetap aja sih, susah ya menghindari gadget. Kalaupun jalan-jalan ke manaa gitu sama keluarga, tetep aja pengen posting-posting, foto-foto cantik nan estetik, yang menunjukkan bahwa Keluarga Kita Happy, Lho. Keluarga Kita Harmonis, Lho. Anak-anak Kita Sehat, Ceria dan Manis-manis, Lho

Yup, di era medsos ini memang banyak keluarga yang berlomba-lomba memperlihatkan keharmonisan mereka di medsos. Apakah itu salah?

Eits, sangat-sangat tidak salah. Malah bisa jadi sangat harus memperlihatkan keharmonisan di medsos, supaya jomlo-jomlo atau single-single fighter percaya bahwa masih banyak pernikahan yang awet, harmonis, akur dan saling menyayangi antar keluarga. 

Tahu dong fenomena sekarang ini bahwa tingkat perceraian semakin tinggi. Penyebabnya selain karena ketidakcocokan, kurang komunikasi, faktor ekonomi ternyata intensitas penggunaan medsos pun berpengaruh. 

Wow, kenapa, tuh, medsos bisa memporak porandakan mahligai pernikahan? Yah, tidak lain dan tidak bukan, medsos menghubungkan kita dengan berbagai macam orang yang mungkin baru kita kenal, kemudian berkomunikasi intens, atau orang lama yang kita temui dan berhubungan kembali. 

Yahh, memang lumayan ngeri pertemanan di dunia medsos ini jika kita tidak punya iman yang kuat. Maksud ngeri disini, ketertarikan kepada lawan jenis akan sangat diuji setiap harinya. Di medsos, berbagai macam orang dengan penampilan fisik yang menarik banyak berseliweran. Baik orang biasa, mungkin teman kita, atau temannya teman kita, saudaranya teman kita, pokoknya orang-orang yang kita kenal di dunia nyata atau di dunia maya. Ataupun selebritis-selebritis yang kita idolakan. 

Mungkin ada yang berpendapat, enggak apa-apa dong kalau jomblo tertarik sama orang-orang di medsos. Ya itung-itung sedang Fit and Proper Tes Jodoh hehe. Nah, ternyata eh, ternyata pilih-pilih jodoh via medsos itu, kadang nggak berhasil, Nak. Kadang yang dilihat di medsos, cantik, baik, pinter, perhatian, itu ternyata hanya pencitraan hihihi. Istilahnya status-status di Ig, Wa FB itu kebanyakan sudah dipoles sedemikian rupa hingga terlihat menjanjikan. 

Tapi, yaa ada yang berhasil juga sih, mendapat jodoh via medsos, tapi banyak juga yang zonk alias kamuflase, malah predator atau pedofil, duh mudah-mudahan kita dan anak-anak kita dihindarkan dari mereka ya... 😓

Terus harus bagaimana?

Bersambung yaa, harus masuk kelas soalnya hahaha, maafkan nggak jelas 😕

see you 😁


Kamis, 19 Mei 2022

Embrace Your Pain

Jumat Berkah, man teman, Aamiin ya, semoga Allah selalu menjadi satu-satunya Raja dalam hati kita, tempat kita bergantung semua keinginan dan harapan 💜


Temans, hari jumat ini saya akan mencoba memaparkan sudut pandang saya tentang sebuah ayat di dalam Al-Quran. Yaitu QS. Al-Ankabut: 2

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

Artinya: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?"

Entahlah, setiap kali membaca ayat ini serasa mendapat obat atau healing atas semua kepahitan, duka, beban hidup (kalau kids zaman now nyebutnya begitu hehe), atau berbagai ujian yang kita kadang ingin mengibarkan bendera putih sama Allah, dan bilang "Allah, aku menyerah, udah nggak kuat. Ganti sama orang lain aja,Ya Allah kalau bisa. Jangan aku yang menjalani ujian ini." 

Pernah nggak, teman-teman berada di posisi itu? Ngerasa nggak sanggup menjalani sebuah ujian. Ya mungkin ujian yang sifatnya menimpa diri pribadi, seperti mendapat fitnah, punya penyakit berat, didera kesulitan hidup yang bertubi tubi, atau sesuatu yang menimpa orang lain tapi berefek pada kita. Misalnya ditinggalkan seseorang yang merupakan tempat kita bergantung, hidup dan mati, istilahnya seperti itu. Mungkin suami atau istri, ayah atau ibu, anak-anak kita, atau orang lain yang sangat kita sayangi.

Saya yakin sebagian besar orang-orang pernah ada dalam posisi itu. Mungkin ada juga sebagian yang bilang, saya tidak pernah mengalami kesulitan hidup. Saya berasal dari keluarga terpandang, materi melimpah, kadang saya bingung harus bagaimana lagi menghabiskannya, saya pun secara fisik sehat, bugar, bahkan sangat menarik. Orang-orang disekeliling saya pun orang-orang yang baik, dan berkecukupan. Apapun yang saya inginkan bisa saya dapatkan dengan hanya menjentikkan jari. Pokoknya selama hidup, saya tidak pernah mengalami penderitaan. 

Oke, mungkin ada yang keadaannya seperti itu. Bisa jadi gen milenial menyebutnya "Anak Sultan" atau "Crazy Rich". 

Nah, ternyata eh ternyata, ujian hidup itu tidak melulu mengenai kesulitan dan penderitaan. Terkadang ada beberapa situasi, ujian hidup itu adalah keadaan aman, nyaman, kemudahan menggapai tujuan, tak ada beban, pikiran ringan, sehingga kadang membuat kita terlena, tak ada alsan lagi untuk bergantung kepada Allah, Naudzubillahi min dzaalik.   

Temans, sebagai seorang muslim, tentu saja, predikat orang yang beriman dan bertaqwa adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai. 

Maka, ketika kita bertekad untuk mencapai gelar itu, maka lewatilah langkah-langkahnya, yaitu salah satunya mendapatkan ujian hidup yang bisa jadi menggetirkan atau juga melenakan.


Sekian, see you tomorrow 😇

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...