Ibu itu jahat. Banyak sekali keburukan yang ia lakukan kepada anak-anaknya. Banyak sekali bukti-bukti bahwa seorang ibu banyak "menyakiti" anak-anaknya, yang malah oleh orang-orang dewasa dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Atau kadang seorang ibu mempunyai sifat-sifat yang tidak "terpuji" padahal ia selalu menasehati anak-anaknya supaya menjadi orang yang berakhlak mulia.
Tidak percaya? Nah, mari kita lihat daftar keburukan-keburukan seorang ibu.
1. Seorang ibu adalah pembohong.
Kalau misalnya kita bertanya kepada setiap orang, terutama kepada orang-orang yang berilmu agama, berbohong itu sifat baik atau sifat jelek? Pasti semua orang akan menjawab, bahwa berbohong adalah sifat yang sangat tidak baik. Bahkan seorang pembohong tidak akan pernah dapat dipercaya lagi, dan ia tidak akan mempunyai banyak teman. Begitu bukan, ketika saat kecil kita didongengi ibu tentang kisah Si Gembala Tukang Bohong.
Tapi entah kenapa, seorang ibu, sangat sering berbohong kepada anaknya.
"Bu, punya uang, enggak? Aku harus beli buku kuliah. Harganya 120.000. Kata Pak Dosen, kalau nilai mata kuliahnya ingin bagus, harus beli bukunya." Alena berbicara kepada ibu dengan hati-hati.
Ibu berpikir sejenak. Ia teringat di dompetnya hanya ada si merah selembar yang tertinggal. Tanggal satu masih lima hari lagi. Gas melon pun harus segera diganti.
"Kalau misalnya minggu depan belinya gimana?" Ujar ibu dengan lembut.
"Hmmm, paling lambat besok, Bu. .... Tapi kalau ibu lagi enggak punya uang, aku pinjam aja sama teman."
"Ooh, ibu ada uang, kok. Kebetulan ada simpenan. Besok ibu kasih ya, kalau kamu mau pergi."
Ibu segera mengambil HP android jadulnya dan mengetik WA kepada seseorang.
Ceu, tiasa kasbon 150? peryogi kanggo budak kuliah.
Tak lama balasan datang.
Aya. Ka rmh we besok pagi. Srg nu sasih kamari, jntn 500 nya
Ia pun kembali membalas dengan hati perih.
Muhun, ceu. nuhun.
2. Seorang ibu adalah penghancur impian anak-anaknya
Katanya supporting system seseorang yang utama adalah orang tuanya terutama ibunya. Namun, entah mengapa, dalam beberapa hal, seorang ibu malah sering menghancurkan impian anak-anaknya.
"Galih, Galih, ... kamu mau sampai kapan main game, Lih? Galih...galih...buka pintunya." Ibu menggedor pintu kamar Galih sambil memanggil-manggil dengan nada tinggi.
"Galih..."
Ceklek, tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Ibu, apa, sih, Bu? Ganggu banget. Aku tadi tuh bentar lagi mau push rank. Gara-gara ibu jadi gagal deh." Galih merengek sedikit marah kepada ibunya karena telah mengganggu hobinya.
"Push rank, push rank apa kamu. Dari tadi pagi sampai asar sekarang, teruuuss aja main game. Mau jadi apa kamu, hah?" Ibu memarahi Galih dengan berapi-api. Kesabarannya sudah habis, karena kegiatan Galih selama liburan ini hanya diam di kamar bermain game.
"Aku mau jadi atlet e-sport, Bu. Kan aku udah bilang berkali-kali. Aku mau jadi gamer. Jadi gamer enggak perlu pintar sekolah."
Semakin berkilatlah mata Sang Ibu, tanda amarahnya semakin menjadi-jadi.
"Apa? Jadi gamer? Enggak perlu sekolah katanya? Kamu tidak akan ibu ijinkan jadi atlit itu. HP kamu akan ibu ambil selama liburan." Dirampasnya HP di tangan Galih dan segera berlalu ke arah kamar, sembari menahan air matanya yang segera menitik satu per satu.
"Ibu, ibu jahat. Ibu enggak mendukung bakat Galih. Aku benci ibu." Sementara Galih semakin menjerit-jerit dan masuk ke dlam kamarnya sambil membanting pintu.
3. Seorang Ibu adalah pengekang pergaulan anak-anaknya
Anak-anak generasi milenial sangat mudah bersosialisasi. Baik di sekolah, di lingkungan rumah, biasanya mereka memiliki circle-circle pertemanan. Melalui circle-circle ini, selain berteman, mereka pun kadang menemukan pujaan hati atau gebetan. Sehingga terkadang mereka jalan atau hang out bersama gebetannya tersebut. Ah, tapi terkadang, seorang ibu sangat overprotective ketika anaknya jalan bersama orang spesialnya
"Kamu mau kemana, Nes? Udah cantik gitu." Ibu yang baru beres memasak sore itu, tampak takjub melihat Nesya sudah berdandan rapi dan cantik. Ia sedang mematut-matut blousenya di depan kaca lemari.
"Ibu, kan aku udah bilang, aku mau jalan sama Fabian." Nesya mengerucutkan bibirnya, tanda merajuk.
Ibu pun tertegun sesaat. Oh, iya. Ia teringat. Tadi malam Nesya meminta ijin untuk nonton bersama Fabian teman dekatnya. Sebetulnya Ibu belum mengijinkan, hanya saja Nesya terus menerus merengek, sampai akhirnya Ibu hanya bilang, gimana besok aja.
Rupanya jawaban ibu, dianggap "memberi ijin" oleh Nesya. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk pergi dengan Fabian.
"Nes, kamu nanti sama siapa aja nonton?" Ibu masih berusaha mencegah Nesya untuk berangkat. Bagi Ibu, Nesya belum saatnya menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis, karena masih di bawah umur.
"Ya, berdua aja, Bu. Tapi kan nanti di bioskopnya banyakan."
"Kamu berangkat sore gini, nanti pulangnya jam berapa?" Ibu masih bertanya.
"Agak malam mungkin, Bu. Kan jadwal filmnya abis magrib." Nesya menjawab dengan nada takut.
"Terus kamu nanti dijemput dan diantar pake motor?" Ibu membayangkan Nesya dibonceng oleh Fabian, hatinya tidak rela anak gadisnya sedekat itu dengan anak laki-laki yang bukan saudaranya.
"Ahh, ibu, banyak tanya. Banyak peraturan. Pasti nanti bilang. Isya harus udah ada di rumah. Jangan gandengan tangan. Jangan boncengan. Ibuuu, aku tuh malu sama teman-teman. Aku dianggap enggak gaul banyak diatur sama ibu. Aku pengen kayak temen-temen bergaul dengan bebas." Nesya meledak amarahnya. Ia tidak tahan dengan banyaknya aturan ibu. Ia pun menangis tersedu-sedu.
Ibu hanya memandangnya dengan berkaca-kaca.
Ya, itulah sebagian kecil "keburukan" ibu. Bahkan bisa jadi lebih banyak lagi. Namun, entah kenapa disaat saya dewasa, saya merasa berterima kasih, ibu telah mendidik saya dengan cara "jahat" seperti itu.
Hatur nuhun, ya, Bu Yayat. Love you 💕