Senin, 22 April 2024
Surat untuk My Fathan (Part 1)
Kamis, 18 April 2024
Keluarga Cemara
Tau, nggak kalian serial Keluarga Cemara? Kalo kalian ngangguk ngangguk, fix kita seumuran yaa. Kalo kalian geleng geleng, atau bahkan baru denger istilah itu, it means you're way way younger than me. Atau mungkin seumuran anak saya.
Baiklah, jangan terlalu banyak berbicara tentang umur, coz it irritates me.
What I'm gonna talk here adalah definisi Keluarga Cemara menurut POV saya, seseorang yang bukan berasal dari Keluarga Cemara.
Halah, gimana sih yaa, kok pusing gitu?
Maksudnya, saya berasal dari keluarga broken home yang very very complicated. Jadi jauh sekali dari gambaran keluarga Cemara.
Ehh, keluarga cemara tuh apa sih?
Nah, begini, balik lagi ke serial Keluarga Cemara, kita singkat KC, supaya nggak kepanjangan.
Serial ini sangat populer di akhir tahun 90an sampai 2000an. (Belum pada lahir, kan?)
Bercerita tentang kehidupan sehari-hari sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah ibu dan tiga anak perempuannya. Meskipun bercerita tentang kisah sehari-hari, namun setiap episodenya dikemas dengan baik dan sarat makna kehidupan. Beberapa konflik sangat relate dengan kehidupan keluarga di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat, karena memang memakai latar daerah sunda. Persoalan yang diangkat yaitu tentang keluarga, sekolah, ekonomi orang tua, yang diselesaikan dengan bagaimana peran orang tua atau dukungan keluarga sangat penting menjadi support system dalam setiap penyelesaian masalah.
Nah, itu sedikit tentang ulasan singkat serial keluarga cemara.
Maka, di era sekarang ini, ketika ada sebuah keluarga yang sangat hangat, lengkap, saling mendukung, minim konflik, disebutlah keluarga cemara.
Balik lagi dihubungkan dengan kehidupan pribadi saya. Bukan untuk mengungkit permasalahan keluarga atau mengumbar aib keluarga, hanya saja apa yang saya sampaikan mudah-mudahan menjadi sharing yang bisa menguatkan anda-anda yang berada di posisi yang sama, jika sudah berkeluarga, atau bagi yang lajang ada sedikit gambaran, bagaimana realita setelah berkeluarga.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, saya awalnya terlahir dari keluarga utuh. Ayah, ibu dan banyak adik. Entah kapan saya menyadari keadaan ini, mungkin ketika saya Tk atau lebih muda dari itu.
Saya mempunyai ayah yang keras. Saya memanggilnya Papa. Mungkin karena beliau mempunyai ayah seorang tentara, dengan saudara-saudara yang banyak (ini menjadi genetik rupanya, tapi tidak pada diri saya). Selain itu, kenapa beliau keras juga mungkin karena beliau berdarah Sumatra. Konon katanya orang Sumatra berwatak keras. Mungkin saja, saya menyadarinya sekarang, Setelah sering berkaca diri, betapa keras kepalanya saya, terkadang hehe.
Sedangkan Mama berdarah Sunda asli. Beliau seorang yang lembut dan penyayang, tidak hanya kepada anak-anaknya tapi juga kepada murid-muridnya. Namun, ada saat-saat beliau sangat kuat dan keras jua, mungkin karena beliau anak perempuan pertama dengan banyak adik (juga).
Ya, semua berjalan normal, ayah ibu dan anak-anaknya. Sampai di sebuah kejadian, di masa kecil saya, saya merekam bahwa keluarga saya diambang hancur. Tak perlu disebutkan apa penyebabnya. Silakan tebak-tebak sendiri.
Intinya sejak saat itu, kehidupan kami sungguh bagai menjalani sampan di lautan berbadai. Masalah datang bertubi-tubi.
Hal ini berlangsung belasan bahkan mungkun puluhan taun.
Hingga akhirnya di usia mereka yang tak lagi muda, mereka memutuskan untuk berpisah.
Ya, saat itu saya sudah dewasa, dan bisa menjalani kehidupan saya sendiri. Namun, tetap saja itu berdampak apalagi terhadap adik-adik saya yang masih butuh keutuhan keluarga.
Long story short, saya kini di usia dewasa sangat dewasa bahkan mungkin menjelang senja.
Kehidupan rumah tangga saya bisa dikatakan berbanding 180 derajat dengan keluarga orang tua. Saya memiliki suami yang penyayang dan bertanggung jawab dan amazing nya lagi, dia tidak pernah marah. saya bold TIDAK PERNAH MARAH. Dalam artian marah yang membentak atau bersuara keras. Apalagi sampai melakukan kekerasan. Noooo. Dan itu diakui oleh dia sendiri "Aa tidak pernah bisa marah sama teteh" #eaaaa, muncul backsound Kita bikin romantis, kita bikin romantis....
Baiklah, mungkin keluarga saya bisa dikatakan keluarga cemara. Keluarga harmonis selama hampir 17 tahun berumah tangga. Dua anak, satu laki-laki satu perempuan. Satu anak surga, yang insya Allah akan menjemput kami kelak di pintu surga.
Ahh, saya harus mensyukuri semuanya. Bahwa berasal dari keluarga broken home, tidak berarti saya akan mengalami keadaan yang sama.
Meskipun ujian dan cobaan pasti tetap ada, saya sangat mensyukuri keluarga kecil saya.
Sedikit mengikuti trend, jika suami saya baik, anak-anak saya hebat, pekerjaan saya lancar, maka ujian itu datang darimana?
Anda seharusnya bisa segera menebaknya....
Senin, 08 April 2024
My Dearest Daughter (Part 1)
Hmmm, mungkin harus segera memulai menuliskan jurnal perjalanan atau pertumbuhan anak-anak di sini. Seharusnya sedini mungkin ya, dari mulai mereka lahir, first tears, first words, first step, first....ah, kan jadi melow, jadi keluar air mata.
Terbayang masa kecil si sulung yang super aktif, kemudian the late second daughter, dan si bungsu yang super kritis. Those are blessings, I'm pretty sure.
Having children memang sangat sangat berarti dan harus patut disyukuri segenap hidup. Banyak yang berharap untuk mempunyai anak, hingga berbagai ikhtiar dilakukan, namun Allah belum menakdirkan. Maka bagi kita yang dikaruniai putra, apalagi lengkap, laki-laki dan perempuan, that's the biggest joy ever in family.
Baiklah, nanti ya kita gali lagi tentang blessing of having children ini.
But, now, I wanna tell you what my daughter had done kemarin sore and it made me so proud and over joy.
Jadi kan, pas momen ramadan ini di mesjid kami ada kebiasaan yaitu berbagi makanan setelah taraweh. jadi bukan berbagi takjil. Mungkin karena kalau berbagi takjil, jarang banyak jamaah kalo pas solat magrib.
Nah, kalo tarawehan ini, pasti jamaah banyak baik orang tua ataupun anak-anak. Jadi para jamaah pun berinistiatif untuk bergiliran menyediakan makanan yang bisa disantap setelah tarawih. Ada yang menyediakan secara perorangan, atau ada juga yang saling patungan beberapa jamaah. Memang cukup berat jika harus ditanggung perorangan, apalagi keadaan ekonomi para jamaah rata-rata menengah kebawah. Karena penganan yang harus disediakan yaitu sekitar 130-160 pcs. Jadi kalau misalnya menyediakan snack sederhana dengan harga 2000, maka harus mengeluarkan modal 320.000.
Ya seperti yang telah diceritakan di awal, bagi mayoritas jamaah yang bekerja sebagai petani dan buruh, uang sejumlah itu cukup besar. Maka beberapa ada yang patungan dengan yang lain, sehingga terasa ringan.
Ahh, baiklah....banyak sekali pengantar yaa, menuju kisah anak perempuanku ini hihihi... Tapi memang seperti itu awalannya.
Nah, si emak ini pun beberapa waktu kemarin berinisiatif sama beberapa saudara untuk membuat penganan ini.
Bersama salah seorang bibi, saya membuat dimsum dan risoles, homemade. Prosesnya cukup seru. Dari mulai hunting bahan-bahan ke pasar tradisional (saya sangaaaat jaraaaaang ke pasar tradision, so it was a great experience. Mungkin ini harus ditulis di judul terpisah hehe), pembuatan dimsum dan packing. Seru sekali, kami bahkan dibantu beberapa saudara karena mengejar bada taraweh.
Nah, baiklah kita sampai ke bagian inti.
Rupanya keseruan di dapur itu, direkam oleh putri saya. She's 10 and a good analyst. Maksudnya, dia sangat kritis ketika melihat atau mendengar sesuatu yang mengusik daya nalarnya (Nah, ini juga harus dituangkan di tulisan terpisah hihi).
Maka kemarin, dia meminta izin untuk menggunakan dapur bersama teman-temannya. Katanya mau membuat bepleng. Itu adalah sejenis makanan berbahan baku tepung kanji. Kurang lebih bahan-bahannya seperti cilok, hanya saja ini berbentuk pipih dan diberi bumbu cabe yang royal.
Saya pun mengizinkannya, daripada dia selalu memegang hp pikir saya.
Di sore hari saya ada kegiatan, dan keluar sebentar sambil membeli penganan untuk berbuka. Ketika saya pulang, saya kaget ketika mendapati dapur super berantakan dan di sana ada dua baskom (big bowl) bepleng.
Oh, my God, I cheered. Banyak banget anak-anak ini bikin makanan. Selain itu banyak juga plastik pembungkus makanan berserakan. Oh I see, pikir saya. Mereka rupanya ingin membuat penganan untuk jamaah tarawih juga.
Saya sangat excited dengan inisiatif putri saya dan teman-temannya. Itu yang pertama. Dan yang kedua saya amazed dengan kemampuan memasak mereka. Bahkan bepleng nya pun berbentuk bulat pipih, well-shaped.
Dan rasanya? Enaakkk.... Gurih, pedas, asam, passs.
I hugged my daughter and said that I really appreciate her efforts with her friends. And deep down, I really appreciate myself, coz I've been raising a great "woman" like her.
Yahh, begitu saja yaa.... H-1 Raya...
Taqabbalallahu minna wa minkum yaa kalian.... 💖
My Passport Story
Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...