Perang Tanpa Genderang
Lama nian kupeluk perih ini, Perih yang menganga, membusuk dan menimbulkan nyeri. Perih yang menusuk, menimbun, dan mengalunkan pedih. Perih yang beracun, menguar, mendengungkan hina diri.
Sangat ingin kusembuhkan luka. Sebab kutahu menyimpan perih ini tak kan bermakna. Sebab kutahu menyemai luka ini hanya akan menuai derita. Sebab kutahu memelihara pilu ini kau akan tetap tertawa.
Detik demi detik ku berpikir keras. Tak berguna jika kalut ini terus menghantuiku dengan deras. Segera kupikirkan langkah demi langkah untuk bergegas. Akan segera kuhancurkan labirin cemas.
Raga telah siap siaga. Pikir tak lekang melantunkan zikir. Nurani mencegah diri untuk tak lari. Semesta ku yakin kan beserta.
Ini bukan tentang membalik telapak tangan. Bukan pula tentang melirik kiri kanan. Jangan pula berpikir tentang mudahnya berdendang. Sungguh hal ini membuatku berdegup tak tenang.
Dilema, duhai, kemudian membuncah. Ah, kepala serasa mau pecah. Kemanakah asa yang tadi sudah terarah? Dimanakah harap yang telah kukemas tanpa amarah?
Ia Sang Raja
Derap langkah berat menghentak lamunanku. Kutatap di sana seseorang yang kupanggil ibu. Kami terpaku. Kelu.
"Masuk kamar, Kak. Segera bereskan tugasmu," Ibu tersenyum kutahu hatinya sendu.
"Kakak akan menemani Ibu di sini. Boleh, ya, Bu?" ucapku pelan dan sedikit ragu.
"Tidak. Kau pergilah ke kamarmu. Ibu akan baik-baik saja menemui ayahmu."
"Aku perlu uang sekarang!" Suara berat menyalang.
"Aku sedang tidak punya uang." Satu suara menjawab tegang.
"Jangan mencoba berbohong atau barang-barang di rumah ini akan melayang."
"Kau benar-benar kejam. Hanya datang ketika perlu uang dan setelah itu kau kembali hilang." Kemudian terdengar isak tangis dan jeritan.
Apakah aku harus teteap disini? Menangis dan berdiam diri? Tak berdaya hanya menyesali? Mengapa tak kudapatkan raja dan ratu yang sehidup semati dan saling menyayangi?
Awal Angkara
Kala itu kau berdiri di depanku. Menatapku tajam, sambi mengisap cerutu. Kau memarahiku nyalang dan menggebu. Kau menderaku dengan kata-kata penuh amarah dan hawa nafsu. Kau membuatku perih dan sendu.
"Jangan mencampuri urusan orang tua," ucapmu dengan lisan yang membubungkan asap.
"Ini tak sesederhana yang kau kira," katamu dengan mata yang semakin gelap.
"Jika kau terus mengganggu dia ...." Ia menghela sekejap, "Kupastikan kau akan menderita." Aku pun telah kehilangan harap.
"Maafkan, jika aku tak tahu diri. Namun, perilakumu sungguh jauh dari teladan. Apa yang kau lakukan hari demi hari? Yang kuingat, hanya tingkah yang membuat aku sedu sedan." Kupandang ia dengan jeri dan segan.
Apa yang kulakukan?
Apakah keluku telah padam?
Apakah aku akan berderap bak pahlawan?
Apakah amarah telah sampai pada titik dendam?
"Sungguh kau anak bebal dan durhaka. Kau dibesarkan oleh dia yang pikirannya penuh prasangka kesal. Kau diurus oleh perempuan yang bodoh dan kumal. Itulah sebabnya kucari yang lain untuk dijadikan kesayangan, untuk kupeluk dan kugenggam. Di sini hanya membuatku muak dan muram."
"Cukup! Kau pembohong! Puluhan tahun kau selalu merongrong. Kami tak kan lagi tunduk dan penakut. Kami bersumpah akan membalaskan luka-luka yang telah kau buat."
Amarahku menggelegak disertai kalut.
"Hai, anak durhaka! Kudengar kau mengecap sekolah agama, tapi mengapa kata-katamu sungguh celaka?!
Hening. Aku diliputi hening. Kuatur helaan dada dan buliran bening. Kutekan emosi yang tersulut supaya tetap tak bergeming.
"Pergi kau menuju indukmu. Mencicitlah kau di sana sampai kelu. Memaki aku, menyumpahi aku, berharap kau bukan darah dagingku. Aku tak keberatan kehilangan keturunan lemah seperti kau. Asal kau tahu, wanitaku yang lain, memberiku pewaris yang lebih beradab dan ayu."
Aku mundur. Akhirnya aku hanya bisa terpekur. Aku meraba hati yang semakin hancur. Aku menatap batin yang sepertinya telah terkubur.
Baiklah, Yanda. Kuterimakan jalan ini dengan lapang dada. Kuikhlaskan takdir ini dengan jiwa seluas samudra. Kurelakan garis tangan ini dengan lega.
Melupakan Pahit Melepaskan Kelam
Kuyakini Allah menunjukkan episode-episode terbaik bagi mereka yang dicintai-Nya. Jika manusia mengira episode bahagia adalah takdir yang palih indah, ternyata episode lain yang lebih indah menempa jiwa. Ia adalah episode menyembuhkan luka dari seorang yang ia sayang dan cinta.
My playlists while writing this post are:
https://www.youtube.com/watch?v=iGPCj2RJqlg&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=34
https://www.youtube.com/watch?v=9_bTpqarEOg&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=40
https://www.youtube.com/watch?v=CVxNlhQ8byc&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=14
https://www.youtube.com/watch?v=5WgulR2Gj6U&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=7