Minggu, 30 Juni 2024

Everyone's Fairy Mother

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z

z


Do you know what is the worst of being a people pleaser? Becoming people's fairy mother.

Selalu mewujudkan impian semua orang. Selalu melayani orang, membantu orang, sampai di titik di luar akal. Membantu dengan otak, tenaga dah materi.

Tapi impian-impian dia, keinginan-keinginan dia nyaris tak terwujud. Impian-impian besarnya terpendam, karena mendahulukan orang lain.

Ketika dia menyadari impian itu tertinggal, ia berusaha meminta bantuan orang lain untuk mewujudkannya, dan apa jawaban mereka "Sudahlah mengalah saja, menyerah saja, sudah terlambat mengejar impian itu. Bersykurlah dengan apa yang kamu dapat sekarang. Jangan banyak keinginan. Wujudkan saja impian-impian mereka di sekelilingmu. Akan jadi amal sholeh."


Hiks, saya hanya bisa menangis.... Apakah saya sudah tidak berhak mengejar impian personal saya?

Jika kegilaan untuk mengejar impian itu semakin bergerilya, hanya akhirnya menyalakan api itu sendiri, berjuang sendiri, bersikap masa bodo atas tatapan sinis orang yang melihat saya seperti gila eksistensi atau mencari muka di depan orang-orang.

But, do you know? Berjuang sendiri ternyata rentan meruntuhkan kewarasan. 

Sampai kapan saya harus berkorban, mendahulukan, melayani orang lain?

Bahkan hingga di titik jika orang-orang yang sudah tidak membutuhkan saya itu akhirnya "mendepak" saya, dengan "senang hati" saya akan melakukannya. Walaupun jiwa terluka berkali-kali. 

Sabtu, 22 Juni 2024

Orang-orang Favorit

Pov. Lagi nyetrika. Cape. Scroll Shopee. Ada ide tulisan, buka blogger. 


Here's what I thought when I'm ironing


Semua orang pasti punya orang-orang favorit dalam hidupnya. 

Dalam kata lain, orang yang membuatnya bahagia, nyaman, merasa dihargai, merasa diapresiasi, merasa disayang, merasa dibutuhkan. 


Begitu pun saya. 

Years by years, beberapa orang yang datang kemudian menjadi orang-orang favorit. 


Hanya saja satu hal yang sering terjadi, orang2 favorit saya ternyata favorit orang lain juga. 

Bukannya tak mau berbagi, hanya saja kadang mereka yang tak mau berbagi org favorit nya dengan saya. 

Hingga saya, (kakak dari 8 bersaudara) yang terbiasa mengalah, memilih mundur dari pertarungan memperebutkan orang favorit itu. 

Saya lebih memilih menjauh dan melihat orang lain bahagia bercengkrama dengan orang favorit saya. 


(Lanjut lagi nyetrika) 

Senin, 10 Juni 2024

Happy, Seeing Them Happy

As I told you before, that I love cooking snack for my kids. 

I love baking some cookies, cakes, puddings, also cooking some traditional foods just like cireng, cilok, empek2, bakso, pangsit, dimsum and so on. 

The last one, dimsum or siomay, is one of my family favorite. 

So, I try so hard to learn to cook this meal well. 

So far, I satisfied enough with the taste of the dimsum I've made. 

Here are the recipe

Ingredients:

1. Chicken meat, chopped
2. Prawn meat, chopped
Then mix both
3. Eggs
4. Cassava flour
5. Spices
6. And of course the dumpling or dimsum wrap

Steps
1. Mix all the ingredients. 
2. Put the dough into the dumpling wrap one by one
3. Steam the dimsum
4. And the dimsum is ready to serve


You can serve it with chilli oil or chilli sauce. 

Once my friends asked me to do a demo cooking this. And I did that. 

After that they practiced at their houses to make dimsum. They were very glad, because they've made it. 

One thing make me happier, one of my friend selling this snack to fulfill their daily needs. 

Omaygat, I'm so happy to inspire them to get progress in their life. 

What a life! 

Minggu, 09 Juni 2024

Dua Bulan

Melayani manusia sejatinya adalah kesia-siaan

Mengharap, manghamba, meminta belas kasih, mengiba kepada anak cucu adam, sejatinya adalah sumber kesakitan


Manusia hanya mahluk alfa

Manusia setiap detiknya hanya mengais noda alih-alih amalan yang berpahala


Mereka saling memuji pun mencaci

Mereka saling mencinta pun menghina

Mereka saling sayang pun menentang

Mereka saling merindu pun berlalu


Manusia dan segala kericuhannya

Segala kecongkakannya

Menghabiskan bermilyar kisah dan dongeng yang melepuhkan air mata pun angkara


Saujana

Merendalah berbagai sapaan hingga pertikaian



Kamis, 06 Juni 2024

Hari ini

.


Hari ini, maaf, gak nulis apapun... 

Selasa, 04 Juni 2024

Sekolah yang Baik

Kalo kemarin saya memberi pendapat tentang sekolah yang gagal, maka hari ini saya akan memberi pendapat tentang sekolah yang baik. 


Tahun ajaran lama akan segera berakhir. Itu berarti tahun ajaran baru akan segera dimulai. 

Gak kerasa sih siklus ini sudah saya lewati hampir 23 tahun. 

Jadi bisa dibilang, setengah usia saya jadi guru. 

Ini bole ga sih dapet penghargaan? 😁

Joking, kok. 

Saya jadi guru, ikhlas beramal.... Tapi tetep butuh gaji dong, karena anak2 saya makan nasi, bukan makan angin 😅


Oke balik lagi ke judul yaa, maafkan saya suka gaje hihihi


Nah, awal tahun ajaran baru, pasti banyak ortu yang mencari sekolah untuk anak2nya. 

Dari TK, SD sampe Perguruan Tinggi, pasti sedang berlomba dicari sama para orang tua. 


Cieee, ada yang dicari, kapan dong saya dicari 🤣🤣


Hihihi, maaf maaf, rupanya sore ini saya sedikit eror wkwkw


Oke, jadi banyak ortu yg nyari sekolah. 

Nah, sbg ortu saya juga sempet bingung, harus nyari sekolah yang seperti apa. 


Saya kemarin2 sempat bingung mencari sekolah untuk putra saya yang akan melanjutkan ke jenjang SMA. 

Sebenarnya saya menginginkan anak saya masuk pesantren, tapi dianya nggak mau. Ya sudah tidak saya paksa. 


Dia ingin masuk sekolah negeri favorit, tapi karena jaraknya jauh, saya menyerah sebelum berjuang di jalur zonasi. 


Ngeri harus bersaing dengan beberapa "oknum" ortu yang menghalalkan "berbagai cara" supaya anaknya bisa masuk SMAN favorit. 


Bukannya sok suci sih, cuma... Yaa males aja lah. 


Nah, akhirnya saya mencari SMA swasta. Ada sebuah SMA swasta bonafid di Sumedang. 

Saya sempet ngeri dengan biaya nya, tapi saya kemudian pelajari program2nya da berbagai fasilitasnya. 


Akhirnya saya putuskan untuk mendaftarkan anak saya ke sekolah tersebut. 

Dan alhamdulillah bisa dapat beasiswa unggulan akademik. Karena anak saya rangking 1.

Alhamdulillah saya bangga sekali. 


Jadi apakah kriteria sekolah baik menurut saya? 

1. Program berorientasi pada kemampuan siswa yang beragam

2. Ada program keagamaan

3. Ada program pertemuan orang tua rutin

4. Bekerjasama dengan berbagai pihak terutama PT lanjutan

5. Biaya terjangkau

6. Mudah transportasi


Nah itu aja ya singkatnya. 


Nanti, diperpanjang kalau sempet.... 

Minggu, 02 Juni 2024

Sekolah yang Gagal

What do you think? 

Kira-kira ciri-ciri sekolah yang gagal seperti apa, sih?

Yang siswanya banyak yang nggak lulus?

Yang siswanya banyak yang drop out?

Yang siswanya banyak yang suka tawuran?

Yang siswinya banyak yang MBA? 

Yang siswanya banyak yang suka merokok dan mabok?


Ya, mungkin saja bisa seperti itu. Karena indikator bagus tidaknya sebuah lembaga pendidikan adalah dari kualitas murid-muridnya dan lulusannya.

Tapi, kan sekolah sudah berusaha memberikan program yang terbaik, dan kualitas siswa tidak hanya dipengaruhi oleh pelayanan sekolah tapi juga lingkungan rumah, pertemanan di luar dan zaman sekarang tentu tak terlepas dari pengaruh gadget.

Ya, memang betul sekali. Tantangan pendidikan di era milenial sekarang sangat-sangat berat. Pengaruh buruk lebih banyak menghampiri siswa dibanding pengaruh baik.

Oke, itu akan jadi pembahasan panjaaaang.... sekali.

Kita kembali ke istilah "Sekolah Gagal"

Sekolah gagal disini adalah sekolah yang gagal secara kuantitas alias sudah kekurangan murid, bahkan tidak ada murid.

Lho, memang ada sekolah yang seperti itu, bukankah munculnya sekolah karena permintaan dari masyarakat, jadi kaya teori ekonomi supply and demand? ecieee gaya jadi ahli ekonomi 😁

Ya, memang seperti itu awalnya. Tapi lambat laun kan banyak persaingan yang muncul. Sekolah-sekolah baru semakin menjamur, yang memang disebabkan demand-demand baru, banyak munculnya idealisme-idealisme baru.

Dikarenakan hal tersebut maka banyak sekolah yang gulung tikar alias bankut. Bukan hanya sekolah negeri tak sedikit juga sekolah swasta.

Seperti halnya yang saya amati, sebuah sekolah swasta bonafid di Sumedang. Sebut saja mawar 😅, eh maksudnya sekolah X.

Saya pernah berkunjung satu kali beberapa tahun yang lalu. Sekolah ini memang jauh dari pusat kota, namun posisinya yang berada di lereng bukit, sangat nyaman untuk belajar. Apalagi jika dijadikan sekolah alam.

Nah, baru-baru ini saya mendapat info, kalau sekolah ini hampir gulung tikar 

Saya sangat bersedih mendengarnya. Karena sepengetahuan saya, banyak program bagus di sekolah ini yang tidak dimiliki sekolah lain.

Tapi, mungkin dikarenakan manajerial yang kurang bagus, sehingga kekurangan peminat.

Nah, jadi dalam kasus ini, sekolah gagal menurut saya adalah, sekolah yang tidak bisa mempertahankan programnya yang ideal, bahkan lebih jauh lagi tidak bisa berinovasi mengiringi perkembangan zaman.

Okay, gitu aja.

Bye

All Eyes on Rafah

Rutinitas saya akhir-akhir ini seperti ini,

Bangun tidur, menjalankan aktivitas pagi, sarapan, bercanda dengan suami, kemudian scroll ig, dan nyesss mata beremebun.

Kemudian pergi ke kantor, mengerjakan beberapa tugas, bercanda dengan rekan kerja, tertawa-tawa, kemudian scroll lagi Ig, nyess mata kembali berkaca-kaca

Pulang ke rumah, bercengkrama dengan anak-anak, atau jajan makanan kesukaan anak-anak, scroll ig kembali merebes mili...

Allah.... sekuat apa pondasi akidah yang kau tanamkan pada saudara-saudara muslimku di palestina? Tentu bukan pondasi hasil dari ilmu-ilmu parenting doktor A, B, atau psikolog E, F. Tentu bukan fondasi hasil SDIT M, P, Pesantren Z, Y, Madrasah R, Q....

Fondasi iman yang mereka miliki benar-benar hasil bimbingan dan edukasi dari Sang Pemilik Langit dan Bumi langsung. Tentu dengan perantara manusia-manusia pilihan yang tak lagi takut akan makhluk, seperti takut pemerintah, takut organisasi tertentu, takut, kehilangan pekerjaan, takut kehilangan masa depan. Mereka makhluk yang tak mengenal takut, kecuali takut akan Allah. 

Guru-guru mereka bukan lagi guru bergelar S,Pd., M.Pd atau profesor doktor, tapi guru-guru yang bergelar Hafidz/Hafidzah lurus. Kenapa saya sebut Haifdz/Hafidzah lurus, karena di negara kita sedang heboh seorang ustadz muda yang bergelar gus gus itu, tapi ternyata hobi dugem.

Bukan, saya bukan nyinyir kemudian memandangnya jelek. Karena diri saya pun masih jauh dari baik. Padahal saya seorang guru di madrasah, aktif di organisasi Islam, ikut kajian, tapi ada beberapa perilaku saya yang ternyata masih jauh dari agama. 

Berkali-kali saya beristigfar, 

Duh, Allah, ampuni saya atas dosa-dosa saya. Rasa sakit ini masih ada. Rasa sakit yang bercampur-campur. Tapi saya harus menerima dan kemudian terus memperbaiki diri. Entah kedepannya apakah ada sesuatu yang terjadi sesuai harapan saya, atau Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik.

Ah, sudahlah, lupakan dulu "luka" itu.


Kita balik lagi ke Palestina.

Ya, muslim Palestina sejatinya adalah penduduk surga yang sedang transit ke bumi. Terutama para bayi dan anak-anak. 

Bagaimana tidak, mereka sepertinya hanya numpang lahir di tanah para nabi itu. Bahkan para bayi, yang baru menginjak beberapa bulan, terkena bom, terkena rentetan senjata, dan akhirnya kembali ke sis Allah Swt. Begitupun anak-anak yang seharusnya sedang bahagia di masa-masa dunia bermain mereka, tapi setiap harinya bukan gelak tawa yang mereka dengar, tapi suara-suara bom yang jika tidak mengenai orang tua mereka, maka mengenai tubuh-tubuh mungil mereka, hingga akhirnya mereka pun kembali kepada Pemiliknya.

Israel dan Kebiadaban, adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. 

Mungkin memang skenario mereka hidup di dunia, sudah Allah gariskan untuk menjadi tokoh antagonis.

Saya sendiri kadang merasa lemah dan sedih ketika hanya bisa share di medsos tentang isu-isu ini, dan sesekali pernah berdonasi semampu saya.

Berada di titik itu saya bersedih. 

Ingin rasanya bergerak, tidak hanya aksi demo ataupun itu.

Kadang ada ide terbersit melakukan penggalangan donasi dengan bentuk seperti ini, seperti ini, (di otak sudah tergambar jelas), tapi saya bingung, harus dengan siapa mengeksekusinya

Serasa kini sudah tak ada kawan lagi...

#freepalestine


Sabtu, 01 Juni 2024

Kidung Lara Ananda (Part 2)

Perang Tanpa Genderang

Lama nian kupeluk perih ini, Perih yang menganga, membusuk dan menimbulkan nyeri. Perih yang menusuk, menimbun, dan mengalunkan pedih. Perih yang beracun, menguar, mendengungkan hina diri.

Sangat ingin kusembuhkan luka. Sebab kutahu menyimpan perih ini tak kan bermakna. Sebab kutahu menyemai luka ini hanya akan menuai derita. Sebab kutahu memelihara pilu ini kau akan tetap tertawa. 

Detik demi detik ku berpikir keras. Tak berguna jika kalut ini terus menghantuiku dengan deras. Segera kupikirkan langkah demi langkah untuk bergegas. Akan segera kuhancurkan labirin cemas. 

Raga telah siap siaga. Pikir tak lekang melantunkan zikir. Nurani mencegah diri untuk tak lari. Semesta ku yakin kan beserta.

Ini bukan tentang membalik telapak tangan. Bukan pula tentang melirik kiri kanan. Jangan pula berpikir tentang mudahnya berdendang. Sungguh hal ini membuatku berdegup tak tenang.

Dilema, duhai, kemudian membuncah. Ah, kepala serasa mau pecah. Kemanakah asa yang tadi sudah terarah? Dimanakah harap yang telah kukemas tanpa amarah?


Ia Sang Raja

Derap langkah berat menghentak lamunanku. Kutatap di sana seseorang yang kupanggil ibu. Kami terpaku. Kelu.

"Masuk kamar, Kak. Segera bereskan tugasmu," Ibu tersenyum kutahu hatinya sendu.

"Kakak akan menemani Ibu di sini. Boleh, ya, Bu?" ucapku pelan dan sedikit ragu.

"Tidak. Kau pergilah ke kamarmu. Ibu akan baik-baik saja menemui ayahmu."

"Aku perlu uang sekarang!" Suara berat menyalang.

"Aku sedang tidak punya uang." Satu suara menjawab tegang.

"Jangan mencoba berbohong atau barang-barang di rumah ini akan melayang."

"Kau benar-benar kejam. Hanya datang ketika perlu uang dan setelah itu kau kembali hilang." Kemudian terdengar isak tangis dan jeritan.

Apakah aku harus teteap disini? Menangis dan berdiam diri? Tak berdaya hanya menyesali? Mengapa tak kudapatkan raja dan ratu yang sehidup semati dan saling menyayangi?


Awal Angkara

Kala itu kau berdiri di depanku. Menatapku tajam, sambi mengisap cerutu. Kau memarahiku nyalang dan menggebu. Kau menderaku dengan kata-kata penuh amarah dan hawa nafsu. Kau membuatku perih dan sendu. 

"Jangan mencampuri urusan orang tua," ucapmu dengan lisan yang membubungkan asap. 

"Ini tak sesederhana yang kau kira," katamu dengan mata yang semakin gelap.

"Jika kau terus mengganggu dia ...." Ia menghela sekejap, "Kupastikan kau akan menderita." Aku pun telah kehilangan harap. 

"Maafkan, jika aku tak tahu diri. Namun, perilakumu sungguh jauh dari teladan. Apa yang kau lakukan hari demi hari? Yang kuingat, hanya tingkah yang membuat aku sedu sedan." Kupandang ia dengan jeri dan segan.

Apa yang kulakukan? 

Apakah keluku telah padam?

Apakah aku akan berderap bak pahlawan?

Apakah amarah telah sampai pada titik dendam?

"Sungguh kau anak bebal dan durhaka. Kau dibesarkan oleh dia yang pikirannya penuh prasangka kesal. Kau diurus oleh perempuan yang bodoh dan kumal. Itulah sebabnya kucari yang lain untuk dijadikan kesayangan, untuk kupeluk dan kugenggam. Di sini hanya membuatku muak dan muram."

"Cukup! Kau pembohong! Puluhan tahun kau selalu merongrong. Kami tak kan lagi tunduk dan penakut. Kami bersumpah akan membalaskan luka-luka yang telah kau buat."

Amarahku menggelegak disertai kalut.

"Hai, anak durhaka! Kudengar kau mengecap sekolah agama, tapi mengapa kata-katamu sungguh celaka?!

Hening. Aku diliputi hening. Kuatur helaan dada dan buliran bening. Kutekan emosi yang tersulut supaya tetap tak bergeming.

"Pergi kau menuju indukmu. Mencicitlah kau di sana sampai kelu. Memaki aku, menyumpahi aku, berharap kau bukan darah dagingku. Aku tak keberatan kehilangan keturunan lemah seperti kau. Asal kau tahu, wanitaku yang lain, memberiku pewaris yang lebih beradab dan ayu."

Aku mundur. Akhirnya aku hanya bisa terpekur. Aku meraba hati yang semakin hancur. Aku menatap batin yang sepertinya telah terkubur.

Baiklah, Yanda. Kuterimakan jalan ini dengan lapang dada. Kuikhlaskan takdir ini dengan jiwa seluas samudra. Kurelakan garis tangan ini dengan lega. 


Melupakan Pahit Melepaskan Kelam

Kuyakini Allah menunjukkan episode-episode terbaik bagi mereka yang dicintai-Nya. Jika manusia mengira episode bahagia adalah takdir yang palih indah, ternyata episode lain yang lebih indah menempa jiwa. Ia adalah episode menyembuhkan luka dari seorang yang ia sayang dan cinta. 


My playlists while writing this post are:

https://www.youtube.com/watch?v=iGPCj2RJqlg&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=34 

https://www.youtube.com/watch?v=9_bTpqarEOg&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=40

https://www.youtube.com/watch?v=CVxNlhQ8byc&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=14

https://www.youtube.com/watch?v=5WgulR2Gj6U&list=UULFLq3IGJA-umsfTgDpHZREGA&index=7





My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...