Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya tapi nggak norak kayak kamu.
I don't care.
Pokoknya saya sedang bahagia sekali, karena telah berhasil mengusahakan sesuatu yang mungkin useless atau nggak penting dan nggak prioritas alias ngabis-ngabisin uang.
Tapi, bagi saya ini adalah obsesi hidup yang di masa lalu tidak terpikirkan sama sekali.
Pertama dari segi dana, kedua dari segi identitas yang sepertinya akan sulit bagi saya untuk mengusahakan ini.
But, I made it. I accomplished it.
Apa sih? Lagi ngomongin impian apa?
One of my biggest dreams is going abroad. And I think everyone will dream about it also. So, going abroad is a dream for most people in the world. Especially, for those who live in a developed country, pasti punya keinginan untuk bepergian ke negara maju.
Melihat suasana kota-kota modern. Bangunan-bangunan indah, yang sudah berusia ratuasan, ribuan tahun, tapi masih terawat indah, atau bangunan canggih yang di luar nalar, tak pernah terlintas dipikiran manusia awam, kecuali yang punya intelektual dan imajinasi tinggi.
Bagi saya satu lagi yang membuat saya ingin bepergian ke luar negeri, karena saya sangat memuja bahasa inggris. Maafkan jika terlalu berlebihan, tapi begitu lah perasaan cinta yang sangat tinggi kepada bahasa internasional ini.
Saya mengajar bahasa inggris sudah hampir seperempat abad. Jangan ditanya interaksi saya dengan bahasa inggris. Sejak bocah saya sudah berasyik masyuk dengan bahasa negara raja charles ini (Ingat. Sekarang beliau sudah jadi raja, bukan pangeran lagi hihihi).
Ya, mungkin bisa jadi saya lebih jatuh cinta dengan bahasa inggris dibanding suami saya 😅. Tolong jangan bilang bilang pak suamik ya.... Saya takut ditinggalin soalnya 😁
Hmm, tapi kalau anak-anak, ya, tentu saja saya lebih cinta anak-anak saya dongs.... no ones can beat them 😎
Oke, balik lagi.
Karena saya guru bahasa inggris, maka saya sangat terobsesi untuk mengunjungi negara dimana bahasa inggris menjadi bahasa utama atau bahasa kedua. Karena ketika saya berkunjung ke negara-negara tersebut, mau tidak mau saya harus mempraktekan teori-teori bahasa inggris yang sudah saya ajarkan kepada murid-murid saya.
Emang kalo di Indonesia tidak bisa praktek bahasa inggris ya? Bukankah bisa ngobrol sama bule secara online?
Ya, memang, sih. Di era digital ini banyak aplikasi untuk praktek bahasa inggris online. Ome TV misalnya.
Tapi feelnya beda ya. Ketika ngobrol online, daya paksa nya itu lemah. Maksudnya, ketika kita ingin mampu sesuatu, kita herus terpaksa melakukannya, sehingga semua halangan pun diterjang (ciee..).
Nah, kalo praktek secara online, kemudian kita mengalami kesulitan, kita tinggal say goodbye kemudian leave room, atau cut off the line. Dan, sudah kita kembali ke zona nyaman kita, di ruangan kita, berbahasa nasional lagi, atau bahasa ibu lagi yaitu bahasa daerah.
Kalau kita datang sendiri ke negara tersebut, kita akan terpaksa bercakap-cakap dengan bahasa mereka, karena kita tidak bisa kabur. Ketika kita tidak mengerti, kita terus dipaksa untuk memeras otak memilih kata-kata yang tepat dalam bahasa tersebut, sehingga kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan.
Tapi tentu saja tidak mudah untuk bepergian ke luar negeri, terutama berkaitan dengan biaya. Untuk pergi ke negara tetangga terdekat saja, diperlukan biaya minimal 2-3 juta hanya untuk transport bulak balik. Belum lagi untuk penginapan dan makan. Jika ingat oleh-oleh untuk orang rumah, maka budget itu akan membengkak menjadi 5-8 juta.
Hmmm, bukan berarti saya tidak ada uang sebesar itu, alhamdulillah saya bisa mencukupi keluarga dengan baik. Mengumpulkan uang sebanyak itu, bisa dalam 3-4 bulan.
Hanya saja, bagi saya dan suami, menghabiskan uang sebanyak itu untuk pelesiran, bisa dikatakn "dosa besar". Karena kami prioritas keperluan anak-anak yang harus dipenuhi.
Itu tahun-tahun kemarin.
Hingga beberapa bulan yang lalu, saya merenungi sesuatu.
Banyak orang beranggapan bahwa berinvestasi yang menguntungkan adalah dengan saving materi. Bisa berupa uang, emas, tanah, bangunan dll.
Itupun menjadi kepercayaan kami sejak lama, dan turun temurun dari orang tua kami.
Alhamdulillah, suami termasuk orang yang bisa pintar melakukan itu. Artinya beliau ketika mempunyai rezki berlebih, memang biasanya membeli sebidang tanah atau bangunan atau memang menyimpan uang di bank. Salah satunya, persiapan untuk kuliah si sulung. Ia jauh jauh hari, bulan bahkan tahun sudah mengumpulkan sedikit demi sedikit tabungan, yang bahkan saya pun tak tahu, nabung dimana dan besarannya berapa.
Karena suami melakukan hal mulia seperti itu, maka saya pun meniru. Saya mulai menabung. Meskipun kadang nggak berbekas, karena saya suka sekali berbelanja 😂
Waktu demi waktu, tabungan saya, alih-alih bertambah, malah tak berbekas. Ya, saya memang selemah itu mengurus keuangan.
Saya kemudian mengindajk usia 40 tahunan. Saya merenungi kembali apa yang sudah saya raih. Salah satu yang saya recall yaitu impian saya ke luar negeri.