Rabu, 18 September 2024

Loper Koran dan Dejavu

Saya sebenarnya banyak kerjaan ketika datang ke kantor, tapi entahlah, rasanya ingin menuliskan ini terlebih dahulu.


Jadi, tadi pagi ketika berangkat sekolah, saya melihat seorang loper koran sedang melemparkan koran ke sebuah rumah langganannya. 

Saya sempat terkesima dengan apa yang saya lihat. Dalam artian benak saya terlempar ke masa tahun 90an dulu. 

Loper koran adalah salah satu pekerjaan utama ataupun pekerjaan sampingan yang lumayan populer di tahun 90an.

Orang tua saya pernah berlangganan koran dan majalah. Saya yang senang membaca, melihat tumpukan koran dan majalah dalam keranjang seorang loper koran adalah sesuatu yang keren.

Ada koran umum, koran bola, koran hp, majalah emak-emak, majalah anak-anak, majalah remaja, majalah religi.

Waktu itu orang tua saya berlanggana  koran umum di jawa barat yaitu Pikiran Rakyat. Ibu saya berlangganan mangle. Saya bersama adik-adik saya yang beranjak remaja berlangganan majalah kawanku.

Ahhh, masa lalu yang indah ya. 

Seperti di film-film jadul. Suasana di meja makan ketika sarapan. Si ayah membaca koran. Ibu membawakan roti oles mentega, si anak minum susu dengan pakaian seragamnya, anak laki-laki dan anak perempuan tentu saja. Dua anak cukup. Begitu jargon populer kala itu.

Saya mungkin pernah merasakan masa-masa keluarga seperti itu, dengan suasana bukan dua orang anak, tapi sekitar 5 atau 6 orang anak, karena memang keluarga kami yaitu keluarga besar. 

Tapi masa-masa itu sudah lewat. Sudah hancur. Sudah berantakan. Yang tersisa hanya luka-luka dan sakit.

Hhhh, saya menghela nafas panjang.

Perjalanan hidup saya memang harus seperti ini. Tak ada pilihan lain selain harus menjalani dan banyak bersyukur. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...