.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan bosan ya, saya masih ingin bermesraan dengan masalah mental saya. Saya masih ingin menumpahkan berbagai ke-overthinking-an saya.
Setelah sebelumnya saya menulis tentang masa masa remuk dan babak belur saya, bukan berarti hal tersebut sudah usai alias sembuh.
Wahai saudara-saudara, saya kira yang menyebabkan saya babak belur adalah orang-orang tertentu yang datang di hidup saya, yang saya anggap sebagai seseorang yang saya sayang, ternyata "fate" pun membuat saya babak belur alias mentertawakan saya.
Jadi begini, kadang ada saat-saat (sering malah) setelah beberapa kejadian "shocking" yang datang menimpa saya, saya merasa saya ternyata badut bagi mereka. Saya hanya dibutuhkan ketika mereka tak ada opsi kecuali bantuan saya. Saya hanya pelarian terakhir ketika mereka tak ada tempat lagi untuk lari. dan KETIKA MEREKA TIDAK BUTUH SAYA, MEREKA AKAN MENINGGALKAN SAYA TANPA RASA BERDOSA.
Hingga saya berfikir, APAKAH MEREKA PUNYA HATI? KENAPA MEREKA SEJAHAT ITU? Padahal saya sudah memberi hati. Ya saya memang tidak pernah tanggung memberikan kepedulian dan kasih sayang saya. Sampai kadang saya anggap saya berlebihan.
Ah sudahlah, saya tak mau mengingat lagi.
Intinya, ketika saya merasa menjadi badut bagi beberapa orang, saya menerima dan menganggap itu sebagai konsekuensi mungkin ada perilaku tak elok yang pernah saya lakukan kepada mereka.
Hingga ada sebuah kejadian yang membuat saya shocked, bahwa saya pun ternyata badut dalam "takdir hidup ini"
Jangan dulu bilang saya lebay. Dengarkan dulu cerita saya.
Jadi suatu hari saya ditawari untuk mengikuti sebuah tes bergengsi sebagai guru B. Inggris.
Saya jujur sangat excited. Karena tawaran ini datang dari seseorang yang bisa dibilang expert dalam per bahasa inggrisan tingkat nasional.
Saya pun menyanggupi walaupun ada perasaan tidak pede. Tapi beliau meyakinkan saya bisa.
Kemudian saya pun mengikuti test, yang ternyata diluar ekspektasi, alias susah sekali 😟
Hasilnya? Yaa, GAGAL, Cuy.
Saya tidak terlalu kecewa sih, toh saya newbie. Apalagi setelah tahu bahwa teman saya yang pernah homestay di Australia pun Gagal. Dan beberapa tutor les B inggris yang jam terbangnya sudah tinggi pun gagal.
Saya pun tereleminasi.
Hingga beberapa hari kemudian, saya mendapatkan email dari penyelenggara program pusat, bahwa saya lolos menjadi instruktur.
Saya kaget. Nilai saya kan tidak mencapai limit.
Saya kemudian konfirmasi ke seseorang yang mengajak saya itu.
Beliau hanya mengatakan "Oh, sebentar ya saya konfirmasi dulu"
Tak lama setelah itu, saya mendapat email susulan, bahwa email yang menyatakan saya lolos adalah kesalahan.
"God" Saya sampai tak bisa berkata-kata. Kok bisa project tingkat nasional, bisa salah kirim begitu.
Saya memang sempat berharap lagi. Tapi kok setelah tahu itu salah kirim, sakitnya lebih lebih ya. Lebih sakit daripada ketika saya tahu bahwa nilai saya kecil dan gagal.
Saya sampai tertawa miris.
Ya Allah, bahkan untuk mereka yang tidak saya kenal pun, saya "BADUT".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar