Rutinitas saya akhir-akhir ini seperti ini,
Bangun tidur, menjalankan aktivitas pagi, sarapan, bercanda dengan suami, kemudian scroll ig, dan nyesss mata beremebun.
Kemudian pergi ke kantor, mengerjakan beberapa tugas, bercanda dengan rekan kerja, tertawa-tawa, kemudian scroll lagi Ig, nyess mata kembali berkaca-kaca
Pulang ke rumah, bercengkrama dengan anak-anak, atau jajan makanan kesukaan anak-anak, scroll ig kembali merebes mili...
Allah.... sekuat apa pondasi akidah yang kau tanamkan pada saudara-saudara muslimku di palestina? Tentu bukan pondasi hasil dari ilmu-ilmu parenting doktor A, B, atau psikolog E, F. Tentu bukan fondasi hasil SDIT M, P, Pesantren Z, Y, Madrasah R, Q....
Fondasi iman yang mereka miliki benar-benar hasil bimbingan dan edukasi dari Sang Pemilik Langit dan Bumi langsung. Tentu dengan perantara manusia-manusia pilihan yang tak lagi takut akan makhluk, seperti takut pemerintah, takut organisasi tertentu, takut, kehilangan pekerjaan, takut kehilangan masa depan. Mereka makhluk yang tak mengenal takut, kecuali takut akan Allah.
Guru-guru mereka bukan lagi guru bergelar S,Pd., M.Pd atau profesor doktor, tapi guru-guru yang bergelar Hafidz/Hafidzah lurus. Kenapa saya sebut Haifdz/Hafidzah lurus, karena di negara kita sedang heboh seorang ustadz muda yang bergelar gus gus itu, tapi ternyata hobi dugem.
Bukan, saya bukan nyinyir kemudian memandangnya jelek. Karena diri saya pun masih jauh dari baik. Padahal saya seorang guru di madrasah, aktif di organisasi Islam, ikut kajian, tapi ada beberapa perilaku saya yang ternyata masih jauh dari agama.
Berkali-kali saya beristigfar,
Duh, Allah, ampuni saya atas dosa-dosa saya. Rasa sakit ini masih ada. Rasa sakit yang bercampur-campur. Tapi saya harus menerima dan kemudian terus memperbaiki diri. Entah kedepannya apakah ada sesuatu yang terjadi sesuai harapan saya, atau Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik.
Ah, sudahlah, lupakan dulu "luka" itu.
Kita balik lagi ke Palestina.
Ya, muslim Palestina sejatinya adalah penduduk surga yang sedang transit ke bumi. Terutama para bayi dan anak-anak.
Bagaimana tidak, mereka sepertinya hanya numpang lahir di tanah para nabi itu. Bahkan para bayi, yang baru menginjak beberapa bulan, terkena bom, terkena rentetan senjata, dan akhirnya kembali ke sis Allah Swt. Begitupun anak-anak yang seharusnya sedang bahagia di masa-masa dunia bermain mereka, tapi setiap harinya bukan gelak tawa yang mereka dengar, tapi suara-suara bom yang jika tidak mengenai orang tua mereka, maka mengenai tubuh-tubuh mungil mereka, hingga akhirnya mereka pun kembali kepada Pemiliknya.
Israel dan Kebiadaban, adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Mungkin memang skenario mereka hidup di dunia, sudah Allah gariskan untuk menjadi tokoh antagonis.
Saya sendiri kadang merasa lemah dan sedih ketika hanya bisa share di medsos tentang isu-isu ini, dan sesekali pernah berdonasi semampu saya.
Berada di titik itu saya bersedih.
Ingin rasanya bergerak, tidak hanya aksi demo ataupun itu.
Kadang ada ide terbersit melakukan penggalangan donasi dengan bentuk seperti ini, seperti ini, (di otak sudah tergambar jelas), tapi saya bingung, harus dengan siapa mengeksekusinya
Serasa kini sudah tak ada kawan lagi...
#freepalestine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar