Senin, 22 April 2024

Surat untuk My Fathan (Part 1)

I have three children. A girl and a boy, and also my late girl. Jadi saat ini saya hanya punya dua anak, seorang gadis dan bujang. Ya, literally, mereka sudah beranjak dari masa kanak-kanak memasuki masa remaja.
Terutama si sulung, Fathan. He's 16 this year. Masih nggak percaya waktu berjalan begitu cepat. Serasa baru kemarin melahirkan anak bongsor ini. Ya, bujangku ini memang lahir dengan bobot yang lumayan yaitu 3,9 kg dengan panjang 39 cm, dan melahirkan normal. Bagi saya itu prestasi sih, Alhamdulillah si boy tumbuh dengan sehat. Dalam beberapa bulan berat badannya terus bertambah dengan pesat. Tapi tetap dalam koridor sehat. Bahkan kadang saya kewalahan menggendongnya dalam durasi agak lama. 

Oiya, satu lagi, si boy ini waktu kecil putih dan sipit. Mirip bayi korea lah, wkwkw. Sedangkan saya waktu itu sangat burik, hahaha, maksudnya bukan menghina ciptaan Allah, hanya saja, memang belum mengenal skincare dan belum bisa merawat wajah wkwkw. Kadang memang lebih mirip pengasuhnya dibanding emaknya 😁.
Eh, bukan berarti under-estimate penampilan nanny-nanny atau ART yaa. Di zaman now, banyak mbak-mbak yang cantip bak selegram. Makanya beberapa waktu lalu sempat rame babysitter yang jadi pelakor, dan nikah sama tuannya, padahal mantan istrinya artis cantik juga hihihi.

Waduh, maafkan kenapa jadi ngegosip.
Yuk, balik lagi ke tema central. Jadi, my one and only son itu memang sangat menggemaskan dan lucu di waktu kecil. Eh, tapi sekarang juga dia semakin ganteng sih 😂 pasti dong emak mana yang nggak muji anaknya hihihi.

Time goes by, he grows up become a "perfect" teen. Perfect disini ya secara kasat mata manusia, ya. terutama emaknya wkwkwk. Fisik oke, tinggi sekitar 175, bb 68, ideal ye kan. Prestasi akademik oke, terakhir rengking 1 lho dia. Bukan karena emaknya guru di sekolah, lho, ya. Tapi karena emang dia lumayan lah, kecerdasannya di atas rata (gen dari mana ya itu? ehmmm ehmmm). 
Dari karakter dan habit, tidak ada yang terlalu melenceng. Dia anak penurut, penyayang. Di keluarga, persepupuan, pertemanan di sekolah, tak ada masalah.

Well, istilahnya dia anak lurus, sejauh ini yaa...

Hingga beberapa waktu kemarin dia curhat tentang "seseorang". Well, you know lah, masa pubertas... he found someone bla bla bla.... 
Tapi uniknya he felt so guilty having relationship with "this stranger girl". And decided to ended the relationship.

Emak benar-benar lega. Tanpa perlu dinasehati from A-Z dia uda sadar bahwa itu ga bener, dan harus ditinggalkan. 

So far, so good. Kesimpulannya seperti itu.

Seperti yang disampaikan di tulisan yang sebelumnya memang "selurus" itu my marriage and my family. Yaa, meskipun masih banyak kekurangan, tapi sejauh ini on the track.

Mau tau ujiannya apa? faktor eksternal dan internal? Hehe, nanti kalo saya sudah siap untuk spill, saya share yaa. Untuk pembelajaran aja. Tapi nantiiii banget. 

Balik lagi ke putra saya. 
Bagi saya, he's beyond my expectations, dulu ketika saya berharap ingin mempunyai putra seperti apa dan bagaimana.
He's the blessed. 
Dengan fisik yang oke, it means saya, kami (with my husband) merawatnya dengan baik secara nutrisi dan asupan makanan. Padahal saya bekerja dan tidak becus memasak, but so far Alhamdulillah dia sehat. Meskipun pada hakikatnya Allah yang menyehatkan.
He's smart. Allahu Akbar yang telah meneteskan kecerdasan kepada putra saya. Karena saya tidak mendidik akademiknya secra khusus dengan kursus-kursus tertentu. 
Ya saya memang guru. Tapi kalau di rumah, bahkan saya jarang cerewet, sudah mengerjakan PR, tugas atau menghapal dll. 
Memang saya memberikan pendidikan formal yang maksimal. Maksudnya dari RA, SD dan MTs, saya memilih sekolah yang menurut saya (kami) terbaik dalam segi penanaman agama, ilmu dan tentu saja terjangkau bagi kami. 
Hanya saja dari kecil dia memang sudah dibiasakan berinteraksi dengan buku. Saya dan suami memang hobi (membaca) mengoleksi buku 😁, maka ketika memiliki putra, kami sediakan banyak buku anak, tentu saja yang bisa kami jangkau harganya hehe. 
Nah, dia sering dibacakan cerita, dan bermain-main dengan buku ketika balita. Mungkin karena kami waktu itupun memutuskan untuk tidak menyediakan TV dan HP masih zaman yang butut, belum android seperti sekarang. 

Kini, dia memang sudah menjadi game-freak. Maen gadget udah jadi hobi utamanya. Tapi Alhamdulillah masih ada waktu membaca buku, setidaknya novel anak mamak Tere Liye, ia sudah khatam membacanya.


Aduh, membicarakan anak kayaknya bakal panjaaang banget. 
Ini belum sampe ke suratnya hahaha.
Bersambung yaa
See yaaa... 💓

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...