Pada suatu hari, komunitas guru yang saya ikuti,
mengadakan penjaringan presenter untuk kegiatan International Conference. Bapak
Founder memposting pendataan bagi siapa saja yang ingin menjadi presenter di
grup WA.
Ya, komunitas guru ini memang sangat aktif sekali
mengadakan kegiatan atau seminar, pelatihan di berbagai bidang yang bisa
diikuti guru di seluruh Indonesia. Meskipun pelatihan dan seminar itu, sebagian
besar dilaksanakan online, namun bagi saya yang tinggal di daerah, sangat
sangat membantu dalam upgrading diri, terutama sebagai pendidik.
Kembali
lagi ke kegiatan International Conference yang akan diadakan di awal bulan
depan. Beberapa anggota komunitas yang mayoritas dosen dan guru di sekolah-sekolah
bonafid, banyak yang mengisi data. Artinya mereka bersedia menjadi presenter acara
tersebut, yang tentu saja dibawakan dengan B. Inggris.
Wihh, begitu membaca deskripsi kegiatan, apa dan
bagaimana, otak saya langsung menciut. Ngeriii. It’s not my field, begitu
ucap hati saya.
Dan akhirnya saya hanya menjadi silent reader,
dengan perasaan takjub, karena banyak teman-teman komunitas yang mengisi dan sepertinya
sangat siap menjadi presenter kegiatan tersebut.
Hingga kemudian Si Bapak founder menjapri saya tentang
kegiatan tersebut. Okeh, saya semakin ngeri mendapatkan WA tersebut. Itu berarti
saya “diperintahkan” untuk menjadi presenter di acara tersebut. Chat di atas yang
beliau sampaikan pada saat itu.
Saya ungkapkan ketakutan saya, dan beliau terus menyemangati
saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mungkin bukan hanya saya yang
disemangati, but anyway saya mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya
kepada Bapak Founder.
Oke, ya pada akhirnya saya memberanikan diri
untuk menjadi presenter.
Dan tahukah anda apa yang menjadi trigger
hingga saya berani?
Yup, betul. Kata Risk Taker “memukul”
mental saya. Bahkan hingga hari ini sangat terngiang-ngiang.
Risk Taker kurang lebih artinya Pengambil Resiko. Atau dalam
kata lain saya mengartikannya sebagai “Keluar dari Zona Nyaman”.
Saya pun sedikit merenung atau instrospeksi diri.
Apakah saya memang seseorang yang selalu bermain di Zona Nyaman? Apakah saya
seseorang yang Kuuleun? Apakah
saya seseorang yang seperti katak dalam tempurung?
Entahlah, tiba-tiba saja perjalanan saya hingga
di titik ini (entah titik sukses atau gagal) berkelebatan. Apakah ini titik
yang penuh perjuangan atau hanya usaha ecek-ecek?
Saya meraba hati saya. Ada satu titik dimana saya
ingin rasanya menangis tergugu. Karena sejujurnya untuk menjadi Jazzy di tahun
ini, banyak sekali roller coaster mental yang saya alami.
Saya tinggal di sebuah desa di kota kecil. Saya mengajar
di sebuah sekolah atau madrasah biasa, tidak wah dan tidak mewah.
Saya berasal dari keluarga sederhana baik secara
materi, keadaan atau bahkan impian. Orang tua saya mengajarkan anak-anaknya, tidak
muluk muluk. Cukup hidup sesuai ajaran agama dan harus memanamkan kasih sayang kepada
sesama.
Namun, tentu saja terkadang Allah menciptakan skenario-skenario
yang diluar harapan. Bukan karena sebab
akibat perbuatan kita, namun skenario skenario pahit yang harus dijalani karena
itu bagian dari takdir yang diterima sebagai seorang anak.
Skenario pahit yang pernah saya alami menjadikan
saya seseorang yang kemudian tidak kenal takut, tantangan apapun saya jalani
asal sesuai dengan passion saya. Setidaknya di level keluarga sederhana saya,
atau di level sekolah saya.
Bukan berarti saya jumawa bahwa saya lebih hebat
dari meraka, namun justru disinilah titik kritisnya. Karena saya sering tergoda
mengikuti kegiatan ini itu, saya lebih sering terjatuh atau gagal dibanding berhasil.
Hingga puncaknya, beberapa “pencapaian” saya
berakibat pada retaknya persahabatan dan persaudaraan saya dengan beberapa
orang. Entah apa sebabnya saya tidak mengerti. Apakah benar-benar hal ini
kesalahan saya yang terlalu banyak mimpi? Atau mereka yang tidak suka dengan
pencapaian saya?
Mungkin bagi beberapa orang saya agak lebay atau
baper. Tapi bagi saya, saat itu adalah saat terberat. Karena mereka yang tidak
suka dengan seorang Jazzy yang super semangat ini adalah orang-orang terdekat yang
tidak mungkin saya jauhi.
Efek dari kejadian tersebut, saya kemudian
menjadi sulit mempercayai orang. Saya bertekad hanya mempercayai suami dan ibu
saya. Bahkan sahabat yang sudah belasan, puluhan tahun pun sudah tidak saya
percayai lagi. Saya hanya akan berteman sewajarnya saja.
Di satu sisi saya juga berfikir, mungkin saya harus
“melambatkan jalan”. Saya tidak akan banyak mengejar impian. Saya akan menjadi
ibu, istri dan guru biasa biasa saja. Hal ini dikarenakan saya tidak mau
dijauhi oleh orang yang sedarah dengan saya, gara-gara saya terlalu
bersemangat.
Yaa, beberapa bulan ini saya berada di posisi I
won’t do anything dealing with my dream. I’ll be a good employee, yang hanya
akan bergerak jika disuruh atasan.
Apakah mental saya sudah baik-baik saja dalam mode
itu?
No, mental saya masih hancur.
Mungkin akan ada yang berpendapat. Udah deh ga
usah lebay. Udah tua juga. Harusnya sudah dewasa. Teu barbarian.
Oh, Allah, saya ingin menjadi seseorang yang
seperti itu. Dewasa, matang, bersahaja, berwibawa, mengayomi orang lain.
Tapi saya harus menerima apa adanya diri saya
saat ini bukan? Mudah-mudahan saja rapuhnya mental saya saat ini menjadikan
saya seseorang yang seperti itu, yang saya sebutkan sebelumnya.
Namun, Kembali lagi kepada kata Risk Taker,
dua kata itu ternyata menyadarkan saya. Noway. Just be you. Hanya karena
banyak orang yang tidak mendukung malah menjatuhkan, bukan berarti kamu harus
mengikuti keinginan mereka.
Kamu harus mengikuti keinginannmu sendiri.
What’s your dream? Chase it. What’s your
obsession? Reach it. What’s your ideal? Grab it.
Allah… aku bersyukur dikelilingi beraneka ragam
orang. Yang mensupport dan yang merendahkan. Tentu itu adalah cara-Mu supaya
aku menjadi sebaik-baiknya hamba.
Okay, let’s be a risk taker.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar