Banyak orang yang mengatakan bahwa kenangan itu tidak perlu diingat-ingat, apalagi dibaperi. Kenangan itu cukup menjadi sejarah yang pernah kita lewati dan kalau bisa dilupakan saja. Terutama kenangan yang akan menimbulkan efek negatif jika dikenang kembali.
Namun ada beberapa kenangan yang ternyata harus kita ingat-ingat, bahkan kita resapi, bahwa kita pernah ada di titik itu dan ingin kembali ke masa itu. Kenangan apa saja sih yang wajib kita ingat-ingat?1. Kenangan mengukir prestasi atau membuat karya.
Di sepanjang hidup kita, tentu lah pernah mengukir -entah banyak atau sedikit- prestasi. Baik prestasi level rendah atau tinggi. Katakanlah prestasi level rendah, ketika mendapat juara kelas waktu SD atau misalnya juara badminton tingkat kecamatan. Atau bahkan bisa jadi pernah menjuarai level tingkat nasional atau internasional.
Selain itu prestasi juga bisa berupa karya-karya yang kita hasilkan, baik karya tulis, produk bermanfaat yang berguna bagi sekitar.
Kenanglah memori itu dalam-dalam, apalagi ketika kita berada dalam titik termalas untuk berkarya. Coba bayangkan lagi masa-masa itu. Masa-masa ketika kita dipanggil sebagai juara atau produk kita diapresiasi banyak orang, ada rasa bangga (tapi bukan sombong ya) dan merasa diri berarti.
Nah, jadi kenanglah masa ini untuk menghasilkan karya dan prestasi baru.
2. Kenangan Menjadi Manusia Paling Baik Versi Saya
Menjadi manusia baik adalah cita-cita semua orang. Meskipun versi baik itu sendiri bisa jadi berbeda-beda, tergantung pola asuh, didikan dan kelekatan pada norma sosial dan agama.
Ya, saya menyebutnya "Manusia Paling Baik Versi Saya". Kita mempunyai idealisme sendiri tentang manusia baik. Kita mempunya indikator-indikator baik untuk diri kita sendiri. Katakanlah, saya baik ketika mudah tersenyum pada orang-orang. Saya baik ketika mudah bersedekah pada orang lain. Saya baik ketika mudah dalam menolong orang lain. Saya baik ketika tidak membicarakan aib orang lain.
Betul sekali, hal yang harus kita kenang adalah "kebaikan-kebaikan" kita. Tapi, bukan untuk dijadikan kesombongan. Kenangan kebaikan ini diingat, ketika kita ternyata telah berbelok jauh dari baik versi kita. Ketika kita menyadari bahwa kita sudah terlalu banyak angkuh, terlalu banyak nyinyir kepada orang lain, terlalu banyak pelit, maka kita wajib mengingat keadaan-keadaan "terbaik" kita.
Ingatlah bahwa ternyata sungguh indah dan menyenangkan ketika kita berada dalam posisi "baik mode on"
3. Kenangan Ibadah Terbaik Saya
Kenanglah memori itu dalam-dalam, apalagi ketika kita berada dalam titik termalas untuk berkarya. Coba bayangkan lagi masa-masa itu. Masa-masa ketika kita dipanggil sebagai juara atau produk kita diapresiasi banyak orang, ada rasa bangga (tapi bukan sombong ya) dan merasa diri berarti.
Nah, jadi kenanglah masa ini untuk menghasilkan karya dan prestasi baru.
2. Kenangan Menjadi Manusia Paling Baik Versi Saya
Menjadi manusia baik adalah cita-cita semua orang. Meskipun versi baik itu sendiri bisa jadi berbeda-beda, tergantung pola asuh, didikan dan kelekatan pada norma sosial dan agama.
Ya, saya menyebutnya "Manusia Paling Baik Versi Saya". Kita mempunyai idealisme sendiri tentang manusia baik. Kita mempunya indikator-indikator baik untuk diri kita sendiri. Katakanlah, saya baik ketika mudah tersenyum pada orang-orang. Saya baik ketika mudah bersedekah pada orang lain. Saya baik ketika mudah dalam menolong orang lain. Saya baik ketika tidak membicarakan aib orang lain.
Betul sekali, hal yang harus kita kenang adalah "kebaikan-kebaikan" kita. Tapi, bukan untuk dijadikan kesombongan. Kenangan kebaikan ini diingat, ketika kita ternyata telah berbelok jauh dari baik versi kita. Ketika kita menyadari bahwa kita sudah terlalu banyak angkuh, terlalu banyak nyinyir kepada orang lain, terlalu banyak pelit, maka kita wajib mengingat keadaan-keadaan "terbaik" kita.
Ingatlah bahwa ternyata sungguh indah dan menyenangkan ketika kita berada dalam posisi "baik mode on"
3. Kenangan Ibadah Terbaik Saya
Sebagai makhluk beragama, tentu kita mempunyai ritual-ritual ibadah yang sudah ditentukan dalam agama kita. Ritual-ritual tersebut tentu merupakan rutinitas yang akan menjadikan kita hamba lebih baik dari hari ke hari jika dilakukan dengan tuntunan yang benar.
Katakanlah dalam agama Islam ada ritual ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, membaca Al-Quran secara rutin dsb. Selain itu ada pula ritual sunah seperti Shalat Tahajud, Shalat Dhuha, Menghapal Al-Quran dll.
Ada masa kita menjadi hamba yang sangat taat, sangat lurus, jangankan ibadah wajib, ibadah sunnah pun tak pernah kita tinggalkan.
Namun, ada kalanya kita pun lalai, ibadah sunah entah kapan terakhir dilakukan. Ibadah wajib pun terseok-seok dilakukan.
Dalam kondisi di titik terendah ini, maka kenanglah ketika rutinitas ibadah kita dalam keadaan fully charged. Dari waktu ke waktu sangat disiplin, sangat menntramkan hati, sangat damai, karena kita menghadirkan "keberadaan Allah" dalam setiap aktivitas.
Tentu kita ingin ada dalam posisi itu lagi, bukan?
Nah, itulah beberapa kenangan yang jangan sampai dilupakan, terus kita peluk dan dijadikan teman pengingat di kala kita terpuruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar