Selasa, 10 Mei 2022

Writing is A Healing

Hallo, guys,

Today is Wednesday. I'm arriving at my office couple minutes ago. No one here, only me, and the office boys cleaning the school.

Ya, hari ini memang masih libur lebaran. Jadi beberapa my office mates masih berada di kampung halamannya. 

Talking about mudik ke kampung halaman, I have an exciting experience this lebaran holiday. Tapi itu nanti saja ya diceritakannya, supaya lebih seru hehe 😁.

Nah, hari ini, kita masih membahas tentang dunia tulis menulis. 

Yuk, kita merenung sejenak. Jika ditarik ke masa-masa lampau alias flashback hehe, sejak kapan sih kita bisa menulis? 

Hmmm, pasti kebanyakan dari kita akan menjawab, sejak TK atau SD. Pokonya sejak diajarkan menulis huruf oleh ibu/bapak guru.

Well, ya, itu bisa jadi benar. Jaman dulu saya SD, kami belajar menulis dimulai dengan berlatih menulis atau membuat pagar, alias angka 1 berjajar. Kemudian membuat telur alias angka nol, sampai beberapa halaman. Barulah setelah itu kami belajar menulis huruf, kata dan seterusnya.

Oiya, jangan lupakan juga pengalaman menulis tegak bersambung, yang lumayan membuat stress, hahaha, angkatan 90-an toss yuu 😆

Okey, jadi katakanlah kita bisa menulis di mulai SD. Bisa menulis materi pelajaran yang ditulis guru di papan tulis, atau juga menulis karangan Bahasa Indonesia.

Namun sebetulnya, menulis sesuatu yang sudah ada bacaannya, itu sebenarnya dinamakan mencatat. Karena kita hanya menyalin tulisan yang sudah ada. Sedangkan kegiatan mengarang, bisa jadi itulah kegiatan menulis yang sebenarnya. Kita diharuskan membuat karangan tentang pengalaman, atau dongeng dongeng, which is kita dituntut untuk berimajinasi sendiri.

Nah, itulah mungkin asal usul kebiasaan kita menulis di masa kecil.

Kita balik ke masa sekarang.

Jika sekarang kita ditanya, apakah bisa menulis? Sebagian besar kita menjawab, Ah, ga bisa, susah. Nulis apa? Aku mah ga pinter, dan lain sebagainya. 

Oke, dalam istilah penulis itu disebut writers block. Jadi semacam penghalang atau alibi untuk tidak bisa melakukan sesuatu, dalam hal ini menulis.

Padahal, setiap harinya, apalagi di era digital sekarang, masyarakat sudah familiar dengan yang namanya medsos atau aplikasi pesan instan. Sebut saja medsos yang populer seperti, facebook, instagram, twitter. Juga ada aplikasi pesan instant seperti Whatsapp, Line, Telegram dll.

Dengan adanya aplikasi-aplikasi tersebut, masyarakat ternyata sudah terbiasa bahkan lihai dalam menulis status. Coba lihat feeds facebook, instagram atau twitter kita, dalam satu menit, berapa orang teman kita yang update status. Sedikitnya 10-20 orang update, tergantung berapa banyak teman kita di medsos tersebut.

Nah, katakanlah hanya beberapa kalimat yang mereka tuliskan, jika dikumpulkan dengan status-status mereka dari kemarin, bulan kemarin, bahkan tahun-tahun sebelumnya, bisa jadi akan terkumpul kalimat-kalimat yang bisa dijadikan buku hehe .

Nah, jadi sebenarnya kita sudah terbiasa menulis. Hanya saja terkadang kita bingung harus menuliskan apa, harus dimulai dari mana, dan harus diapakan tulisan kita itu.

Baik, mari kita mulai dari kebingungan yang pertama,

Apa yang harus kita tulis?

saya akan memberikan tips 3i. Ya, untuk mulai menulis, maka kita bisa memulai dengan:

  1. Tulis hal yang disukai. Sangat mustahil seseorang tidak punya hal yang disukai. Semua manusia diberi fitrah oleh Allah terhadap hal-hal yang disukai. Apapun itu, baik kegiatan, benda, binatang, atau bahkan seseorang. Nah, tuliskanlah kesukaanmu terhadap sesuatu sebebas-bebasnya, sebanyak-banyaknya.  Misalkan hobi kita memasak, maka tuliskanlah resep-resep yang kita kuasai atau tips-tips memasak yang sering kita lakukan di dapur. Kita menyukai kucing, tuliskanlah pengetahuan kita tentang kucing, jenis-jenisnya, bagaimana cara memeliharanya, dll. Kita sedang mengidolakan seseorang, tuliskanlah kenapa kita menyukai seseorang itu, identitasnya, kegaiatannya, hobinya dll. 
  2. Tulis hal yang dikuasai. Setiap dari kita pasti memiliki kelebihan. Jangan merendahkan diri, dengan mengatakan, ah, aku mah apa atuh, ga bisa apa-apa. Itu artinya kita tidak bersyukur kepada Allah. Nah, menuliskan hal yang kita kuasai akan sangat mengasyikkan dan tidak menjadi beban. Karena apa yang akan kita tuangkan sudah ada di otak kita. Contohnya, seorang guru matematika memberikan tips bagaimana cara memecahkan soal aljabar. Seorang petani memberikan ilmu bagaimana memilih bibit padi yang bagus. Seorang pedagang memberikan ide apa saja tips supaya jualannya laku keras, dll. 
  3. Tulis yang mudah referensi. Menulis sangat berkaitan erat dengan membaca. Bahkan keduanya seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maka jika ingin tulisan kita banyak ide dan berbobot, haruslah mencari banyak referensi dan membacanya. jadi, carilah tema yang kita bisa dengan mudah mengakses referensinya. Misalnya, di rumah kita banyak buku parenting, maka kita bisa mulai menulis tentang parenting berdasarkan pengalaman kita ditambah referensi yang kita baca. Di rumah kita banyak mengoleksi buku agama, maka kita bisa menuliskan pendapat kita tentang sebuah ayat atau hadits dikaitkan dengan pemahaman kita dan referensi yang kita baca.
Kemudian berbicara tentang memulai, kapan kita harus mulai menulis, maka jawabannya adalah, mulailah sekarang. Tulislah apa yang terpikirkan, meskipun hanya satu kata, satu kalimat, lebih bagus lagi sudah ada satu paragraf, berupa ide utama.
Take it slowly, jangan terbebani harus menulis sekian sekian kata dalam satu waktu. Kalem saja. Tapi tetap, sekali kali di sela-sela aktivitas, tengok draft tulisan yang sudah ada. Teruskan sedikit demi sedikit. 
Lebih baik lagi jika kita meluangkan waktu setiap harinya untuk menulis sekitar 30 menit atau 1 jam. Lebih dari itu  akan lebih baik lagi. 

Kebingungan terakhir, harus diapakan tulisan kita? 
Simpan saja dulu. Anggap itu adalah detoksifikasi dari kebetean kita, kegalauan kita dan kemarahan kita. Simpan hingga nanti saatnya kita bisa mempublikasikannya, seiring dengan bertambahnya ilmu kita dalam menulis. 

Baiklah, waktu satu jam saya telah habis. Semoga saja hal-hal di atas membantu, yaa.
Yu, tetap semangat 😇💪

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...