Sabtu, 28 September 2024

Pelya

That's her name. 

One of my special students. 

Entahlah, tiba2 saja tadi malam inget dia. 

Apakah dia murid paling pinter? Nope. 

Dia bahkan bisa dibilang termasuk yang lambat dalam menangkap pelajaran. 

Apakah dia murid paling banyak hapalannya? Nope. 

Dia bahkan sangat sulit dalam menghapal ayat Al-quran. 

Apakah dia murid paling banyak prestasinya? Nope. 

Sepanjang jadi siswa, bahkan dia tidak pernah menjuarai lomba apapun. 


So, why she's so special? 

Here's the story goes...

Dia seperti biasa adalah seorang siswa baru di kelas 7. Orang tuanya mendaftarkan, kemudian dia mengikuti step by step menjadi siswa baru, dari mulai MOS, masa tamu, dll. 

Saya pertama kali pay attention sama dia karena dia adalah adik alumni. Jadi kami para guru ini, memang merasa dekat kalau sama keluarga alumni. Dan bersyukur juga orang tuanya masih mempercayakan pendidikan putra putrinya di sekolah kami.

Hal kedua yang membuat saya pay attention adalah namanya. Soalnya seumur saya hidup, baru kali ini saya mendengar nama Pelya. Entah artinya apa, entah singkatan apa. Saya juga lupa, belum pernah bertanya, atau mungkin pernah bertanya, tapi lupa jawaban dia apa, atau dia bahkan juga nggak tahu arti namanya, wkwkwkkw, pusing yaa, dengan penjelasan saya ini hihihi.

Pelya anak yang ceria. Selalu menyapa para guru. Selalu tertawa. Tapi pernah di pertengahan kelas 7 dia ingin pindah. Saya tidak tahu kenapa. Entah kendala ekonomi atau tidak nyaman dengan beberapa teman. Yaa, memang hal tersebut biasa dalam lingkungan sekolah. 

Namun, setelah diberi masukan oleh pihak sekolah kepada ortunya dan kepada Pelya sendiri, ia pun mengurungkan niatnya untuk pindah, hingga akhirnya Pelya bisa lulus. 

Cerita tamat hihihi.

Belom deng.... 

Nah, ada satu hal yang saya ingat kemudian mengenai Pelya. 

Tadi dikatakan bahwa Pelya adalah seorang yang ceria, tapi kadang teman-temannya menemukan, bahwa ia kadang menangis di kelas. 

Ada beberapa yang simpati, tapi lebih banyak lagi yang menyebutnya lebay atau berlebihan. Semakin kesini fluktuatif emosinya sering terlihat. Maksudnya di beberapa hari dia ceria, di hari berikutnya dia sedih. Hingga berefek dia jarang ditemani. Beberapa saja yang mau menemaninya. 

Mungkin karena Pelya tidak mempunyai "keistimewaan" juga menjadikan ia tidak mempunyai banyak teman. 

Tidak istimewa di sini karena fisik dia biasa tidak cantik juga tidak jelek. Tapi satu hal yang sukai dari wajah pelya adalah, wajahnya bersih mulus alami, bukan karena skincare. 

Dia juga bukan dari keluarga berada, sedangkan beberapa temannya dari golongan menengah ke atas.

Dan ya tadi, dia bukan anak golongan 10 besar, tapi dia juga bukan yang terburuk dalam menangkap pelajaran. 

Hingga suatu hari, setelah shalat dzuhur, ketika ruang shalat sudah agak lengang, dia mendekati saya. Dia bertanya,

"Bu, kalau nge barcode itu boleh nggak sih?"

Saya tertegun sesaat. Ngebarcode? Barcode yang di supermarket itu? Atau apa ya?

"Ngebarcode teh gimana?" Saya benar-benar blank apa arti istilah ngebarcode. 

"Menyayat tangan, Bu." Saya semakin tertegun ditambah shock. 

"Astagfirullah, menyayat tangan gimana? Menyakiti diri sendiri?" 

Ia mengangguk.

Saya akhirnya sadar dia sedang tidak baik-baik saja, dan berada dalam masalah besar. 

Akhirnya dia saya peluk. 

"Kamu kenapa?" 

Dan tak lama ia pun menangis tersedu-sedu, sambil sesekali bercerita masalahnya. 

Intinya dia ada masalah di rumah, dan diperlakukan keras oleh ayahnya, hingga terkadang ia ingin kabur. 

Kami pihak guru, kadang tidak berdaya jika anak mempunyai masalah berat di rumah yang berasal dari ortunya. Kami memang menguatkan si anak untuk bersabar dan tetap semangat sekolah, tapi kalau ortunya tidak ada perubahan yang jadi korban tetap si anak. Sedangkan guru di satu sisi tidak bisa ikut campur dengan masalah rumah tangga ortu anak. 

Long story short, Pelya akhirnya lulus dengan selamat dari sekolah kami. Dalam artian tidak ada hal buruk terjadi berkaitan dengan masalah yang membuatnya depresi itu. 

Sekarang dia bersekolah di salah satu SMA negri di sini.

SMA negeri dengan segala "kebebasannya" membuat saya sedikit mengkhawatirkannya. Kenapa sedikit? karena sekarang saya bukan orang yang bertanggung jawab lagi di sekolahnya. 

Saya sedikit khawatir ia lagi lagi terkena depresi. Apalagi lingkungan SMA lebih, pasti akan lebih rumit dalam pergaulan. 

Jika Pelya masih mempunyai luka dari orang tuanya, takutnya dia mencari kebahagiaan di luar, yang entah akan seperti apa pergaulannya.

Entahlah, mungkin saya akan menulis sedikit doa saja kalau Pelya. 

Pel, kita sama sama dibesarkan di keluarga yang bermasalah dan keras. Kita sama sama mempunyai luka batin. Kita sama sama kadang ingin menyakiti diri sendiri supaya pedih ini menemukan obatnya. 

Pel, tumbuh di keluarga yang kacau, jelas bukan keinginan kita juga bukan harapan kita. Mempunyai ortu yang mendidik kita dengan salah, juga di luar kendali kita. 

Hanya saja, Pel, Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya di suatu tempat. Allah tidak pernah keliru memilihkan orang yang akan menjadi tempat pulang kita. 

Pelya, orang tua kita mungkin jauh dari sempurna, tapi dari didikan (baca: kekerasan) yang mereka berikan kepada kita, membuat kita berkaca, bahwa saya tidak boleh melakukan ini kepada anak-anak kita. Membuat kita merenung, jika kita hancur, maka apa yang bisa kita andalkan untuk berdiri tegak. 

Jadi, Pel, teruslah bermuara pada kebaikan dan kehormatan, ketika pikiranmu sesekali ingin menyerah. Menjadi waras dan bangkit, ketika benakmu sering sekali menyerukan untuk menyerah dan gila.

Be strong, Pel. Always.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...