Sabtu, 21 September 2024

Menangis Produktif

Maaf ya, akhir-akhir ini postingan saya pasti sekitaran sedih, luka, kecewa, terpuruk, tertekan 😓. Mungkin saya sedang terkena bisikan syaithon, yaitu tentang kesedihan yang berkepanjangan. 

Konon katanya salah satu cara syetan menyesatkan manusia itu bukan hanya menjerumuskannya pada kemaksiatan, tapi ada yang lebih berbahaya, yaitu menjerumuskannya pada kesedihan yang mendalam. Kenapa hal ini lebih berbahaya, karena manusia kadang tidak sadar bahwa hal itu akan membuatnya melakukan dosa dosa lain.

Nah lho, gimana, pusing kan?

Maksudnya gini. 

Jadi ketika kita sedih, maka bermunculanlah pikiran-pikiran negatif dalam benak kita yang basically tentang diri kita sendiri. 

Sedih akan memunculkan pikiran lain seperti saya tidak berharga, saya banyak kekurangan, saya memang jahat bagi orang lain, saya tidak mempunyai kemampuan apa-apa, adanya saya di dunia ini tidak berguna, saya memang menjengkelkan, saya sebaiknya hidup sendiri and so on and so on.

Nah ketika pikiran-pikiran itu muncul, dan mencapai titik puncaknya, maka apa yang terjadi? Bisa saja kesimpulan akhirnya yaitu ingin melakukan suicide alias bunuh diri.

Dan itu adalah dosa maha besar yang tak akan bisa ditaubati.

Kenapa tidak bisa ditaubati? Karena orangnya kan sudah beda alam. Sudah tidak bernyawa.

Mungkin sedikit berbeda jika dosa besar itu zina atau membunuh. Ketika si pendosa itu mau bertaubat, maka insya Allah masih diterima. Karena ia masih hidup di dunia. 

Allah Maha Pengampun. Selama ia masih bernafas, ketika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah akan diampuni.

Balik lagi ke judul awal.

Manusia dan kesedihan tidak bisa dipisahkan. Konon katanya itu adalah perasaan basic manusia, fitrah dasar manusia, yaitu senang, sedih, marah dan jijik.

So, it's doesn't matter when you're in a deep sorrow.

Itulah mengapa Allah menciptakan tangisan dan air mata.

Saya sekarang udah nggak malu lagi untuk menangis.

Kalau dulu kadang ketika saya menangis saya tahan-tahan, malu sama teman sekantor, malu sama suami, malu sama anak-anak.

Sekarang-sekarang saya sering memanjakan diri saya untuk menangis. 

Kadang di kantor, di rumah, bahkan di hadapan suami saya.

Tapi ada satu hal yang menjadi prinsip saya dalam menangis. 

Saya boleh sedih dan menangis perih, tapi pekerjaan saya jangan sampai terbengkalai. Apalagi setelah menangis itu kemudian melamun, nggak mau makan, nggak mau kerja. Hell nooo, nanti saya nggak dapat gaji dong. Ah, kacau pasti. Udah mah sedih, uang berkurang juga. Jangan sampai itu terjadi.

Maka saya biasanya ketika menangis, saya sambil memasak, membuat cemilan di dapur, atau sambil menyelesaikan pekerjaan ketik mengetik saya, atau sambil jogging (setidaknya badan saya lumayan berkurang kalorinya hihi), sambil mandi, sambil di motor hendak mengambil sesuatu untuk anak saya.

Ya, pernah pula di depan suami menjelang tidur. Ini juga produktif kan, setidaknya setelah itu saya tidur nyenyak hehe. 


Nah, begitulah kira kira, kawans...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...