Salah satu ciri orang berakal itu mempunyai ambis atau impian kan ya?
Ingin menjadi ini, ingin memiliki itu, ingin pergi kesana, ingin merasakan di sana.
Ya kurang lebih begitulah impian-impian manusia. Ada yang impiannya hanya beberapa. Ada yang impiannya cukup banyak.
Tak sedikit pula yang impiannya overload.
Dan yang memiliki overload-dreams itu salah satunya saya, dan keempat teman saya semasa kuliah.
Karena kami kuliah di jurusan bahasa Inggris, maka salah satu impian kami tentu saja pergi ke luar negeri, ke negara yang berbahasa inggris.
Tapi karena kami memang dari keluarga sederhana, kami hanya mengandalkan "keajaiban" untuk pergi ke sana, alias mencari beasiswa.
Nah salah satu teman saya yang super ambis, sedari kuliah sudah pernah ke luar negeri. Ke Kamboja tepatnya. Meskipun bukan negara berbahasa inggris, tapi saat itu ia mengikuti konfrensi pemuda dari beberapa negara, jadi tentu saja bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.
Konon katanya, ada mitos mengatakan, setelah sekali ke luar negeri, maka kesempatan untuk pergi ke mancanegara akan terulang lagi dan lagi.
Dan memang benar. Setelah itu, ia sering ke luar negeri, mulai yang terdekat, Singapura, Makau, Mesir, dan di beberapa pekan ke depan, dia berencana ke Australia.
Teman saya satu lagi tak jauh beda. Ia pernah ke Penang, ke Filipina juga Australia.
Dua teman saya yang lainnya memang belum pernah ke luar negeri, tapi keduanya karirnya juga jauh di atas saya, karena mereka sudah bergelar master.
Saya?
Saya masih lulusan S1. Gelar saya belum bertambah sejak 19 tahun lalu.
Beberapa kali saya bermimpi bahkan sudah mendaftar S2, tapi impian itu hangus lagi lagi karena ditampar kenyataa, banyak yang harus saya biayai, anak2 dan adik2.
Bagaimana dengan impian ke luar negeri?
Meskipun belum bisa S2, saya juga masih punya impian untuk keluar negeri entah mengikuti lomba dan juara, menjadi guru b indo di luar negeri and so on and so on.
Waktu terus berganti. Usia saya tak muda lagi. Anak-anak beranjak dewasa. Impian saya meraih master dan pergi ke luar negeri, perlahan-lahan pupus.
Saya pun beranjak mundur dari ambisi itu.
Saya ikhlaskan diri mungkin diri saya akan tetap seorang sarjana S1 dan tidak akan bisa ke luar negeri untuk urusan sendiri.
Tapi saya mentransfer impian itu untuk putra putri saya.
Saya akan bekerja keras, supaya mereka bisa sekolah tinggi.
Saya usahakan jangankan S2, S1 pun kalau bisa, mereka akan mengambilnya di luar negeri.
Maka jika putra putri saya sekolah di luar negeri, setidaknya saya akan mengusahkan untuk menjenguk mereka bukan ke sana?
Allah, itu saja mungkin ambisi terakhir saya terkait bepergian ke luar negeri.
Biarlah putra putri saya yang mengalaminya.
Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar