Sabtu, 11 November 2023

Gue dan Fiksi

I'm a drama queen. A real drama queen.

Dalam artian hidup saya emang udah kaya drama, sinteron, atau film-film laris.

Drama keluarga, drama pertemanan, drama dengan pasangan.....

Entahlah, andai saja saya penulis novel hebat, mungkin kisah-kisah itu udah jadi buku-buku bestseller. 


But, the point I wanna say is...

Kadang ketika saya nonton film drama yang ramee banget dengan tokoh protagonis yang tersiksa habis-habisan (both mentally and physically), kemudian tokoh antagonis yang datang nggak habis habis, sampe yang nonton greget marah, sedih dan terhanyut, saya bertanya-tanya, emang orang yang tertindas dan semenyedihkan itu ada di dunia nyata? Apakah drama-drama itu hanya khayalan semata atau memang menduplikasi dari kehidupan manusia sehar-hari?

Begitupun ketika di realita keseharian, ada sebuah kejadian di luar nalar, dan tak terbayangkan, seperti anak yang membunuh orang tuanya, atau ayah yang memp***sa anaknya, terkadang saya berpikir, apakah mereka meniru drama di TV? Atau memang naluri keji mereka yang berbuat seperti itu?


Tragedi manusia sejatinya adalah pengulangan dari masa-masa. Ketika hari ini banyak terjadi kriminalitas keji, di masa lalu pun, ketika manusia pertama muncul di bumi, yaitu adam dan anak-anaknya, mereka sudah menorehkan sejarah yang memilukan yaitu, pembunuhan antar saudara, disebabkan dengki dan cemburu.

Begitupun di masa nabi musa ketika seorang bayi dihanyutkan ibunya, untuk menghindari kekejaman penguasa, padahal akhirnya sang bayi itu mengalami plot twist, yaitu dirawat oleh istri sang penjahat tersebut.

Pada akhirnya drama adalah skenario hidup manusia sehari-hari. Jalan hidup dari sang Maha Kuasa.

Ketika ditiupkan ruh di usia 4 bulan di dalam kandungan, maka grand desain hidupnya diprint out, menjadi cerita novel yang bisa jadi tipis, agak tebal, sangat tebal, atau bisa jadi berjilid-jilid. Hingga kemudian kisah novel itu menjadi film yang ecek-ecek atau film terlaris sepanjang masa. 

Bedanya dengan skenario yang dibuat manusia, jika film buatan manusia, maka sang aktor akan mempelajari terlebih dahulu script-nya. Ia akan mengetahui terlebih dahulu lika-liku peran yang akan ia mainkan.

Tapi skenario dari Sang Maha Kuasa tidak dibocorkan kepada aktornya. Jadi sang aktor have no idea takdir apa lagi yang akan dilaluinya di scene selanjutnya.


Manusia dan Fiksi adalah sebuah kesatuan dan keniscayaan. 

Manusia dan drama adalah dua sisi mata uang. Tak bisa dipisahkan. 

Maka ketika ada seseorang yang berkomentar "Drama banget, sih." karena ia tidak suka pada tanggapan seseorang atas suatu kejadian dan dianggap terlalu lebay, bisa dikatakan hal itu tidak tepat.

Semua orang punya batas tertentu menanggapi kejadian hidup.

Bisa jadi tragedi A akan ditanggapi biasa oleh si A. Namun bisa jadi menjadi sebuah tragedi hebat oleh si C. 

Yang penting harus kuat kuat menghadapi hidup ya. 


Karena terkadang justru pemeran antagonis itu adalah dirimu sendiri. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...