Jumat, 24 Maret 2023

Hate and Love me As You Wish

Jadi fragmen pertama seperti ini.  

Seorang perempuan bernama Aly (serius Aly ga ada a nya di akhir), ia baru saja tiba di kosannya pada suatu subuh, agak sempoyongan. Ya di suatu subuh di hari ke dua puluh enam di bulan Ramadhan. Ketika mesjid-mesjid masih mengumandangkan lantunan ayat-ayat suci, ia sedikit mengendap membuka pintu kamarnya. Rupanya ia masih memiliki sedikit malu, padahal kewarasannya sedang tidak genap. Dress hitam ketat dan wajah yang dipoles make up tebal -Mmm, tentu saja saat itu sudah luntur- bisa dipastikan ia tidak baru pulang dari mabit atau itikaf. 

"Heh, dugem lagi". Sebuah suara dari belakang menegurnya. Santi, penghuni kamar di sampingnya, masih dengan mukena di kepala. 
"He eh... Mempeng bu kos udah mudik hehe". Aly terkekeh pelan. Tidak terlalu lucu bagi Santi, maka ia hanya bergumam Ooh.
"Lo, nggak kapok ya, dimarahin ibu kos, disidang, bahkan dibenci sama anak-anak gara-gara kelakuan lo itu"
"Ooh, gara-gara gue perempuan najis, hina, tukang maksiat..."
"Lo emang sekalem itu ya, padahal udah dilabeli negatif kaya gitu".
"Ah, sebodo amat. Prinsip hidup gue, mau kayak gimana pun gue, baik atau buruk, haters pasti ada. Tapi asal lo tau yang ngefans sama gue juga banyak. Buktinya, gue makin laris. Lo atau kalian yang benci gue, nggak usah ngatur-ngatur gue. Sana ngaji lagi".

Blammm...
Aly menutup pintu kosnya dengan keras. Dia tidak peduli teman-teman yang lain akan terganggu dengan tingkahnya itu.
Segera ia merebahkan badan di kasurnya yang berantakan. Ia tidak begitu suka rapi rapi. Katanya buat apa dirapikan, nanti juga berantakan lagi. Jika kemudian ada yang mendebat, oh berarti nggak usah makan kan, nanti juga lapar lagi. Dia akan menjawab. Oh, kalo makan lain lagi. Itu berkaitan erat dengan penampilan gue yang harus gue jaga supaya banyak pelanggan. Dan Aly akan tertawa terbahak-bahak.

Seperti kali ini, ia sedang tertawa puas melihat akun instagramnya. 
Tadi malam ketika dugem, ia memposting fotonya dengan beberapa teman lelaki. Ia bisa dikatakan selebgram, meskipun ecek ecek. Followernya sekitar 600k. Jadi lumayan ramai lalu lintas komentar di postingannya.
Foto ia berpelukan bersama dua orang lelaki, langsung memancing 200 komentar. Dan sampai saat ini masih bertambah. Yah, seperti biasa pro kontra terjadi. Ini beberapa komentar yang sudah Aly baca

@iyanganteng_ "Wahh, dua lelaki beruntung. Gue mau jadi yang ketiganya dong"
@nuraniiihati "Woy, bulan romadon. stop dulu kek maksiatnya".
                            @cicicuit @nuraniiihati "Eh, sok suci lho".
                            @tralalalatrilili @nuraniiihati "kalo ceramah di mesjid sana".
                            @sariputriskincare "Promo Ramadhan pemutih wajah dan kaki. Beli 1 gratis 5".
                            balasan (109)
@bebeb_iman "Kak Aly makin glowing aja. Sukaaa banget".
@mujahid_kabah "Dalam Al-Quran surat An-Nuur ayat 56 disebutkan "Hai perempuan-perempuan...
                                read more

Aly sudah tidak peduli lagi dengan hate speech ataupun love speech yang sering ia dapatkan ketika memposting kehidupan sehari-harinya. Dari mulai pakainnya yang tidak menutup aurat, kata-katanya yang kadang menyinggung orang lain dan pergaulannya dengan beberapa lelaki yang sangat bebas.

Aly tidak perduli. Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Terlepas banyaknya yang suka atau tidak suka, ia tetap akan seperti itu. 


Fragmen ke dua berikut ini.

"Tok, tok, tok. Tiara udah belum ganti bajunya? lama amat, sih. Ra, lo kecipirit ya. Cepetan lho. Kalau telat bisa dihukum keliling lapangan kita." Arsy terlihat cemas di pintu toilet itu. Berkali-kali matanya memandang jauh ke arah lapang. Kelas XI IPS 6 hari ini memang jadwal pelajaran olahraga. Biasanya ia sudah berbaur dengan anak-anak di lapangan. Namun, beberapa hari lalu ada anak baru, sebangku dengan dia. Maka mau tidak mau ia harus "membimbing" anak baru tersebut, diantaranya menunggu Tiara, si anak baru itu ganti baju di toilet sekolah.
Hanya saja Arsy nggak habis pikir, Tiara lama sekali mengganti baju. hampir lima belas menit. Sebenarnya, Arsy tidak begitu suka Tiara duduk sebangku dengannya. Tiara agak aneh menurut Arsy. Ketika masuk sekolah ia memakai baju gamis yang kedodoran. Hijab yang hampir menutupi pantatnya. Dan tahu nggak kalian apa kerjaannya kalau lagi istirahat, ia bakal makan cemilan yang dia bawa dari rumah, habis itu shalat dhuha ke musola dilanjut baca quran sampe jam istirahat selesai. Bete kan berteman sama orang kaya gitu. Nggak ada seru-serunya. Nggak bisa diajak ngebgibahin geng resenya si Audrey. Nggak bisa diajak ngegodain Hasto si juara olimpiade MIPA yang coolnya kaya D.O. Nggak bisa diajak ngecengin Kean, si jago silat yang gantengnya mirip Shawn Mendes. Nggak bisa diajak hang out sama Bambam si anak gaul yang kerennya mirip Ari Ilham.

"Arsy, Ar. Lo lama banget, sih. Dipanggil, Pak Danu. Cepetan katanya." Sepertinya Arsy melamun terlalu dalam tadi. Hingga ia tidak menyadari Gina udah ada di depannya. 
"Astaga. Lo ngagetina aja. Iya, iya bentaran. Ini si Tiara lama amat. Ra, Tiara. Cepetan ih". Berkali-kali Arsy mengetuk pintu toilet, kali ini dengan kekuatan super kuat. Dorr...dorrr...dorrr

Ceklek, pintu toilet pun terbuka. 
Astaga, Arsy dan Gina melongo. Tadi si Tiara masuk toilet mau ganti baju olahraga kan. Baju kaos abu polet merah, ciri khas SMAN 7 kan. Ini gimana ceritanya, si Tiara tiba-tiba keluar masih pake baju seragam (yang dia jahit sendiri dengan ukuran gombrang) putih abu.

"Eh, Tiara, lo gimana, sih. Gue tungguin dari tadi, sampe kesel. Kirain ganti baju. Lo rupanya dandan atau semedi atau jangan-jangan lo ngapalin quran di toilet."
Arsy kehilangan kesabarannya

"Ma, maaf, Arsy, Gina. Tadi aku udah coba baju olahraganya di dalam. Tapi kekecilan. Terus aku nggak terbiasa pake celana olahraga tanpa rok luar." Arsy mencoba menjelaskan dengan terbata-bata.

"Argggh, ini gimana sih. Lo mau ceramah agama di sini? Lo tuh ya, salah masuk sekolah. Lo harusnya sekolah ke tanah arab sana. Sama onta-onta. Hahhh, udah ah. terserah lo aja". Arsy berlalu sambil menggamit tangan Gina yang juga menunjukkan raut kesal. 

Tiara hanya terdiam, dan matanya mulai berkaca-kaca.

Trekkk, tiba-tiba seseorang membuka pintu toilet di di depannya. Seorang gadis seusianya keluar. Ia adalah Kak Neta. Yang Tiara kenal sebagai kakak kelasnya. Ia sering melihat Kak Neta di mushola. Sama-sama suka mengaj juga, sama sama berhijab lebar juga. Hanya saja Tiara belum sempat mengobrol dengan Kak Neta. Padahal Tiara ingin sekali berbagi cerita dengan Kak Neta tentang kisahnya bersekolah di sini. 

"Tiara, ya..." Kak Neta yang bertanya duluan. 
"Iya, Kak..." Jawab Tiara pendek sambil menyeka matanya yang sudah sedikit basah.
"Sabar ya, Tiara. Maaf tadi Kakak menguping dari dalam. Tadinya Kaka mau keluar dan membela kamu, tapi Arsy dan Gina sudah pergi."
"Nggak apa-apa, Kak. Saya sudah siap dengan semua resikonya seperti ini. Kakak juga buktinya berhasil di sini walaupun kadang dilihat aneh dan banyak tidak disukai orang". Tiara agak sumringah kali ini.
"Sebenarnya, disukai dan tidak disukai itu dua sisi mata uang, lho. Kita berbuat kebaikan atau kita berbuat keburukan, haters sama lovers pasti ada. Yang nyinyir dan muji pasti ada. Namun, yang paling penting diri kitanya sendiri, harus selalu di jalur yang positif. Jadi mereka yang membenci karena mereka membenci kita yang berada di jalan lurus. Dan mereka yang mencintai karena mereka cinta karena kita di jalan lurus. Jangan terbalik. Kita disukai dan dibenci karena berbuat salah. Jangan sampai seperti itu". 
Tiara mengangguk mengerti dan semakin kuat keyakinan di dadanya, bahwa prinsip hidupnya sudah benar.

"Eh, kenapa jadi ceramah di toilet, ya. Hehe. Ayo kita ke lapang. Nanti kamu ijin aja olahraga ya. Sekalian Kakak bantu ngomong ke Pa Danu, kamu nanti boleh pake kaos bebas dan memakai rok kalo olahraga".

"Terima kasih banyak, Kak. Makasih". Mata Tiara kembali berembun, kali ini terharu karena bahagia. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...