Minggu, 11 September 2022

You Can Take It Slowly for A While

Saya baru menyadari, bahwa ternyata ada karakter keukeuh, keras kepala, ketika ada impian, harus wajib tercapai. 

Yaa, mungkin sifat itu akan terasa mudah, ketika saya adalah seseorang yang mempunyai privilege lengkap. Maksudnya, materi berlimpah, fisik yang sekuat superman, support system yang selalu mendukung, lingkungan yang nyaman, dannn lain sebagainya...

Tapi, entahlah, yang saya rasakan, semuanya terasa sulit. Saya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan bisa dikatakan saya adalah generasi sandwich, alias, selain harus membiayai diri sendiri, keluarga kecil saya, juga harus membiayai beberapa adik.

Hmmm, katakanlah saya tidak tahu berterima kasih dan tidak tahu bersyukur. Astagfirullah semoga Allah mengampuni.

Hanya saja, di usia yang tak lagi muda dengan mimpi yang menggunung, membuat saya mudah terbawa emosi dan baper. Bukan baper kepada orang lain, lebih kepada kadang saya kecewa dengan diri saya sendiri yang tak mampu berusaha lebih keras untuk meraih mimpi.

Kadang saya ingin mundur menjadi pemimpi. Ingin jadi emak emak yang normal saja. Mengurus anak, bekerja dengan santuy, pergi pagi, pulang sore. Tanpa membawa pikiran bahwa siswa saya harus seperti ini, nanti di sekolah ingin mengadakan program ini. Ingin mempunyai lembaga ini dan ini, hahhhh...

It's so tiring.

Tapi entahlah, mimpi menjadi ini itu, spertinya sudah menempel erat di otak seperti lintah. Atau bahkan sudah menjadi bagian dari diri saya, menjadi soulmate.

Mungkin saya akhirnya harus ikhlas. Bahwa inilah diri saya dan orang-orang di sekitar saya. 

Bahwa tidak semua orang berani bermimpi dan menghalau rintangan-rintangannya, jika saya salah seorang yang seperti itu, mungkin saya bisa memanggil diri saya hebat. 

Yahh, hebat bukan untuk bersombong. Tapi hebat untuk mengobati luka-luka diri.

Hal lain yang bisa mengobati juga, mungkin saya harus mengerem sedikit, laju impian saya. Dipilah dipilih mana yang jadi prioritas dan mana yang harus dikesampingkan.

Mungkin tak apa sekali kali, jangan menengok komputer atau laptop. Fokus saja membaca novel favorit atau makan makanan kesukaan.

Ah, ya memang harus seperti itu.

Semangat....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...