Mmm, entah, mungkin karena perempuan dan seorang ibu, sangat bisa merasakan apa yang dialami Bu Atalia dan Pak RK. Apalagi saya pun memang pernah kehilangan seorang anak, sebelas tahun lalu. Walaupun saat itu putri saya baru berusia beberapa bulan ketika dipanggil Sang Kuasa, namun tetap saja sampai saat ini masih ada perih dan terasa seperti mimpi.
Begitupun dengan apa yang dirasakan Pak RK sekeluarga terutama Bu Atalia, pasti masih merasa seperti antara nyata dan halusinasi.
ketika terbangun dari tidur, ia pasti merasa, Apa yang terjadi? Apakah benar yang terjadi kepadaku? Apakah benar musibah ini menimpaku? Dan ketika sadar bahwa ujian berat itu ia alami, maka tak ada yang bisa dilakukan selain menangis, bahkan menjerit, Ya Allah, mengapa berat sekali ujian ini?
Ujian yang berkaitan dengan anak adalah ujian yang sangat dirasakan berat bagi orang tua. Bahkan ketika ia belum hadir ditengah-tengah pernikahan, setiap pasangan pasti merasakan sedih yang sangat. Karena anak adalah perhiasan, begitu firman Allah dalam QS. Ali Imran: 14
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
(https://tafsirweb.com/1146-surat-ali-imran-ayat-14.html)
Ya, anak adalah perhiasan, atau sesuatu yang dipandang mata sangat indah. Lihatlah bagaimana ia ketika lahir, bayi dan di masa kanak-kanak. Semua tingkahnya membuat setiap orang tua bahagia dan bangga, juga terharu. Semua perkembangan kemampuannya membuat para orang tua sangat intens untuk memantau.
Ketika sang anak ditimpa sakit atau musibah, maka paniklah para orang tua. Mereka berusaha memberikan akses kesembuhan yang maksimal. Begitupun ketika anak masuk sekolah, pendidikannya diberikanlah yang terbaik.
Sehingga ketika dalam suatu pernikahan, Allah belum mengaruniakan anak, banyak pasangan yang bersedih dan kecewa, bahkan bisa jadi marah kepad Allah.
Seperti apa yang dialami pasangan Hanum Salsabila Rais dan suami. Mereka menceritakan bagaimana ikhtiarnya untuk mendapatkan putra di buku "I Am Sarahza".
Sungguh buku yang sangat menyentuh. Terutama ketika membaca bagaimana proses ikhtiar mereka. Tanpa kenal lelah berjuang, terkadang gagal, namun mereka bangkit lagi dan saling support.
Hingga kemudian ikhtiar mereka berbuah hasil. Sang putri yang bernama Sarahza pun lahir di tahun ke sepuluh pernikahan mereka. Sungguh berbuah manis kesabaran mereka.
Kembali lagi pada musibah yang dialami Pa RK sekeluarga.
Entahlah apa yang akan saya rasakan jika da di posisi Bu Atalia. Saya pun sama mempunyai sulung seorang laki-laki. Sungguh bahagia melihat ia tumbuh dengan baik. Segala impian dan cita-cita saya tumpukan kepadanya. Pelipur lara, bintang hati kami semua. Bagaimana jadinya jika ia menghilang tanpa rimba seperti itu? Kalaupun telah dipanggil Yang Kuasa, ingin rasanya memeluk jasadnya. Namun, bahkan jasadnya pun tak bisa diusap dan dirangkul.
Pak RK dan Bu Atalia, kita adalah orang-orang terpilih. Orang tua yang kehilangan anaknya adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi seseorang yang sekuat karang. Setelah kehilangan anak kita tercinta, hidup tak lagi sama, semua di dunia hanya fatamorgana. Kita selalu berdoa, bahwa kelak Allah akan mempertemukan kita bersama sang mata hati di surga-Nya kelak. Aamiin.
Peluk Bu Cinta 😓

Tidak ada komentar:
Posting Komentar