Kamis, 23 Juni 2022

Marah Perkara Rumah

Perang dingin ini, mungkin, judulnya. Kalau bukan, mungkin namanya marah dalam diam. Ah, mungkin kami seperti anak kecil, meskipun telah menikah lebih dari dua belas tahun, tapi ketika ada perbedaan pendapat, malah mengedepankan ego daripada lapang dada.


"Bun, hari ini Kaka diantar siapa?"
Si sulung, Fahra, sudah rapih dengan seragam SMPnya. Ia berjalan menuju dapur yang merangkap ruang makan, dimana aku berada sekarang.

Ayam goreng yang sedang aku bolak balik menguarkan harum ke seluruh ruangan.

"Sama Ayah aja lah, bunda males nganterin hujan gini." Aku menjawab sambil memperhatikan ayam di penggorengan jangan sampai gosong. Fahra segera mengambil piring dan menyantap sarapannya di meja makan di depanku.

Ku lihat jam dinding, sudah jam 6.15, tapi karena di luar hujan gerimis, matahari belum terlihat menyapa.

"Bunda, aku hari ini enggak sekolah ya, boleh?" Anak keduaku, Faiz, tampak masih kusut. Jelas rambut dan badannya belum menyentuh air, kecuali air wudu tadi subuh.

Ia tengah menyendok nasi ke piring, dan segera duduk di samping Fahra.

"Hujan gini, Bun. Males aku tuh, datang ke sekolah ujan-ujanan. Boro-boro semangat sekolah. Yang ada kan malah sakit, masuk angin, belajar pake baju basah." Ia terus berbicara di sela-sela sarapannya.

"Kamu kalau lagi makan, jangan banyak bicara, A. Keselek nanti, lho." aku mengingatkan sambil memandangnya sedikit tajam.

"Ah, bilang aja malas sekolah. Alesan hujan. Biasanya juga suka ujan-ujanan." Ucap Fahra sambil mendelik tajam ke arah Faiz.

"Kamu tuh aneh banget, ya. Beda kali maen ujan-ujanan, sama datang kesekolah keujanan. Kan kalo abis ujan ujanan bisa mandi, pake baju ganti. Nah, kalo keujanan datang ke sekolah, baju basah, yang ada masuk angin. Gimana, sih  udah SMP tapi masih oon." Faiz malah nyerocos berbicara kepada Fahra.


Fahra dan Faiz memang hanya terpaut 15 bulan usianya, jadi terkadang mereka kurang akur. Jika ada hal yang tidak sependapat, mereka akan saling melempar argumen, meskipun tidak sampai bertengkar hebat. Intinya keduanya keras kepala.

Hmmm, agak malu sebenarnya, karena sifat mereka tentu saja menurun dari kedua orang tuanya.

Seperti yang saat ini sedang terjadi. Aku dan bapaknya anak-anak sedang saling kesal satu sama lain.

"Bun, kapan dong beli mobil? Kan Bunda udah beres kursusnya kemarin. Tinggal beli, mobilnya."
Entahlah, Faiz dan Fahra itu seperti dua anak yang jiwanya tertukar. Fahra perempuan, tapi karakternya lebih pendiam. Faiz laki laki, tapi cerewetnya minta ampun.

"Bun, yang Honda BRV kayak punya Rafi bagus, deh. Yang warna silver." Ia masih mengoceh sambil membersihkan tulang belulang yang tersisa di piringnya.

"Dih, emang beli mobil kayak beli gorengan, tinggal pilih, bayar, gitu?" Fahra mendecih mendengarkan ocehan Faiz, sambil mencuci piringnya di tempat cuci piring.

Fahra, Faiz, ayo hari ini berangkat pake grab. Ayah udah pesenin barusan." Bang Anjar, ayahnya anak-anak alias suamiku yang sedang aku sebali, tiba-tiba sudah berdiri di depan kami dengan pakaian rapih tanda sudah bersiap akan bekerja.

Dan apa katanya tadi? Sudah pesan grab buat anak-anak? Dih, sejak kapan dia mau memesan grab car untuk berangkat sekolah anak-anak? Biasanya, ia lebih baik basah kuyup mengantar dua anak itu ke sekolah, karena dua jas hujan sudah dipakai anak-anak, dia akan hujan-hujanan.

"Yeay, ayah baik banget, tumben. Eh, gimana gimana tadi, udah dipesenin? Berarti udah di jalan dong. Aduh gimana Faiz kan belum mandi, Yah. Argh, Kak Fahra tungguin Faiz, ya. Mandinya bentar kok, cuma 2 menit." Alih-alih segera berlari ke kamar mandi, putraku yang duduk di kelas enam SD itu malah banyak ngomong ini itu.

"Faiz, cepat ke kamar mandiii... " Aku sudah hilang kesabaran, hingga akhirnya meledak memarahi Faiz.

"I-iya, bun... , " Faiz pun setengah berlari menuju kamar mandi.

###

Drama pagi itu masih terbayang sampai saat ini ketika malam mulai menjelang.

Anak-anak yang selalu kesulitan berangkat dan dijemput dari sekolah ketika hujan besar, aku pun sangat repot, kalau pulang belanja bulanan, membawa anak dan juga belanjaan dengan memakai beat hitamku.

Ahh, aku akan mencoba lagi membujuk Bang Anjar, untuk membeli mobil, walaupun second.
Ini demi anak-anak, begitu akan kuungkapkan alasanku.

Ya, itulah penyebab perang dingin kami akhir-akhir ini. Aku mengusulkan supaya tabungan kami dibelikan mobil, biarlah rumah masih ngontrak, siapa tahu mobil bisa dipakai usaha untuk menabung membeli rumah.
Tapi Bang Anjar keukeuh, rumah adalah kebutuhan primer. Harus diprioritaskan. Jadi saat ini ia sedang menabung untuk beli rumah.
Kendaraan bermotor dua, masih cukup katanya.

Tapi aku pikir, aku akan mencoba membujuknya sekali lagi.

Anak-anak tengah mengerjakan PR di kamarnya sehabis mengaji magrib tadi.

Aku menunggu Bang Anjar pulang, di ruang TV.
Tak lama terdengar suara khas motor Revo memasuki halaman.

Segera aku ke depan, membuka pintu rumah.
Aku menyambutnya dan mencium tangannya.
Ia segera duduk di kursi malas kesayangannya.
Ketika ia akan membuka kaos kakinya, aku sudah mendahuluinya.
"Bang, ini diminum dulu, biar seger." Kuberikan segelas Es Lemon Tea kesukaannya.

Ia segera mengambilnya dan menyeruputnya dengan nikmat.

Ku pijit pijit bahunya supaya dia merasa rileks.

"Wi, Abang tekankan sekali lagi ya, kita tidak akan membeli mobil, sebelum berhasil membeli rumah. Rumah adalah prioritas. Abang tidak mau kita terus-terusan mengontrak. Jadi tidak ada lagi perdebatan beli mobil dulu atau rumah dulu. Titik."
Ya ampun, belum juga berbicara, aku sudah di skak mat seperti itu.

"Hah, terserah Abang, deh." Kucubit sedikit bahunya untuk melepaskan kekesalanku, kemudian berlalu ke arah dapur.

"Aww, sakit, Wi." Bang Anjar kemudian berteriak.

Aku dalam hati hanya bersuara, "Rasain..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...