Selasa, 07 Juni 2022

Love Yourself, Forgive Yourself


Book Review hari ini saya akan sedikit menyampaikan apresiasi saya tentang buku yang berjudul "Janji" karya Tere Liye.

Wah, apresiasi, memang siapa saya hehehe... 😁. Ya, setidaknya saya seorang fans beliau merasa berhak memberi apresiasi dengan sedikit kata-kata bukan? 😄

Tapi tenang saja ya, saya tidak akan spill resume buku alias memberikan spoiler. Hmm, memang sebaiknya dibaca sendiri, sih. Karena feel nya akan dapat, dan lagian saya sudah agak-agak lupa ingat jalan ceritanya seperti apa hehehe 😂. 

Saya disini hanya akan memberikan sedikit refleksi dari hikmah yang dapat saya refleksikan dalam kehidupan saya sehari-hari. 

Secara garis besar, Novel "Janji" ini berkisah tentang masa lalu seseorang yang buruk dan ia berusaha memperbaikinya atau dalam kata lain bertaubat. 

Ahh, tentang masa lalu buruk, saya rasanya ingin berkata bahwa semua orang mempunyai masa lalu yang suram. 

Tapi, ternyata banyak sekali orang-orang yang oleh Allah "dipelihara" sedari kecil hingga akhir hayatnya. Dalam artian tidak pernah terjerumus ke dalam dosa besar, hanya dosa dosa kecil yang sifatnya manusiawi yang pernah ia lakukan.

Sungguh keberuntungan bagi orang yang seperti ini. Entahlah, menurut saya, orang-orang yang "terpelihara" seperti ini, bukan karena ia sangat paham agama atau selalu berbuat kebaikan, saya mengira ini karena do'a orang tuanya yang didengar Sang Maha Kuasa. 

Ya, begitulah manusia, banyak sekali yang bergelimang dosa, terperosok ke dalam kubangan maksiat. Salah satunya mungkin saya, kita, kamu. 

Kemudian, kita yang penuh khilaf ini dari hari ke hari semakin memperbaiki diri. Entah hati nurani yang membelokkan kepada kebenaran, atau sayup-sayup doa orang-orang terkasih yang tak henti membisikkan nama kita untuk segera memperbaiki diri. 

Ya, akhirnya kita ada di titik menyesali diri. Menyadari bahwa masa lalu adalah masa yang kelam. Beritikad keras bahwa masa depan harus ada perubahan.

Kesalahan kecil yang kita lalui, bisa dengan sangat mudah kita rubah dan maafkan. Bagaimana dengan dosa-dosa besar kita?

Terkadang walau sudah berlalu sekian lama, gaung rasa bersalah dan berdosa itu masih melekat. Lagi dan lagi kita sering memaki diri kita

"Kamu bodoh melakukan hal itu."

"Kamu dungu sudah berbuat hal tercela itu."

"Kamu bebal tak henti mengulangi kesalahan itu."

Hei, ternyata sisi nurani pun tak lelah menjeritkan kata-kata harapan

"Kamu sudah hebat sejauh ini, sudah berubah ke arah lebih baik. Teruskan, jangan kembali lagi ke arah suram itu."

"Kamu pasti bisa melalui jalan perubahan ini. Melangkahlah sedikit demi sedikit."

Memaki dan memuji berkeliaran dalam diri kala kita terjebak untuk perubahan diri. Memaki dan memuji hakikatnya dalah dialog pemaafan diri. 

Duhai diri, maafkan lah dirimu sendiri. Tak apa terperosok dalam, asal kau peluk lagi dirimu, maafkan dan bangkit, untuk terus berjalan menuju kebaikan.

Wallahu 'Alam.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Passport Story

Ga apa-apa saya dibilang kampungan atau malu-maluin. Dibilang telat, kemana aja, gitu doang meni hewir alias riweuh. Orang lain juga punya t...